Rain


Rain

"Tak Selamanya Hujan Pertanda Luka"



 "Huh... " 

  Hanya hembusan nafas lelah yang dapat ku keluarkan saat ini. Sembari duduk diatas kursi kereta api, berharap agar kereta ini dapat membawaku ketempat tujuan. 


  Sembari menunggu, ku sibukkan diri dengan mengotak atik ponsel tak bersalah milikku, memilih memutar lagu apa saja saat ini. 


  Entahlah, rasa lelah ku sangat mendominasi sekarang. 


Lelah akan apapun itu. 


Ding... 

Dong... 

Deng... 


  Suara bising yang khas itu membuyarkan pikiranku yang sudah berkelana kemana-mana sembari menyerapi setiap isi bait dari lagu yang tengah ku dengar mengalun indah dalam gendang telinga. 


  Aku membuka mata, kemudian lekas bangkit berniat meninggalkan kereta. 


Klek 


  Terdengar suara pintu terbuka, menampilkan sesok gadis dengan pakaian acak-acakan tengah melangkahkan kaki memasuki ruangan. 


  Dengan kekuatan yang tak seberapa, aku melempar tas ku asal. Tak peduli kini ia mendarat dimana. 


Nyatanya sekarang diriku lelah. 


  Aku kemudian melemparkan tubuhku begitu saja ke atas kasur dengan ukuran double bed itu. 


  Memilih merentangkan tangan sembari menatap langit-langit kamar yang hanya menampilkan warna putih polos. 


  Merasa bosan, perlahan mata yang semula terbuka itu perlahan mulai tertutup. 


Ting... 


  Namun sialnya, suara nyaring dari benda canggih serbaguna itu kembali membuat mataku terbuka. 


  Cepat-cepat ku raih benda itu, lalu ku usap layarnya dan mengetikkan beberapa angka yang kugunakan sebagai sandi. 


  Ku lihat notifikasi yang memberitahukan bahwa itu adalah sebuah surat resmi yang ditujukan padaku. 


  Aku menghirup nafas pelan, lalu ku hembuskan kembali. 


  Ku tekan layar itu perlahan, kemudian dengan sigap ku tutup mataku, belum siap dengan apa yang harus ku terima untuk kedepannya. 


  "Okey pasti berhasil kali ini", monologku meyakinkan diri sendiri. 


  Perlahan namun pasti, ku buka mataku kembali. Namun hanya ada helaan nafas gusar setelahnya. 


  Aku dinyatakan gagal. Yah, gagal dalam mengikuti tes untuk bekerja di salah satu perusahaan. 


  Aku menghela nafas sekali lagi, lalu ku tutupi mataku menggunakan lengan bagian kiri yang terbebas dari apapun. 


  Sedangkan lengan bagian kanan yang awalnya berdiri tegap memegang sebuah benda pipih kini dengan hitungan detik sudah mendarat sempurna di tempat yang empuk. 


Aku... Gagal. 


  Tanpa ku sadari, butiran bening satu persatu mulai mengalir dari pelupuk mataku. Perlahan mereka mulai terjun dengan kecepatan maksimal. 


  Aku terisak. Menahan diri agar tak menangis lebih kencang lagi. Namun semuanya sia-sia. 


Hingga pada akhirnya aku terlelap. 


  Pukul 22.07 , aku kembali terbangun. Baru saja aku tidur dua jam, namun saat ku bangun perutku sudah berteriak dan mendemo minta diisi. 


  Aku berdecak tak suka, harusnya jam segini mereka bisa diajak kerja sama. 


  Memilih bangkit, aku kemudian mencuci wajahku. Seusai melakukannya, aku mengangkat kepalaku menatap cermin, seperti yang biasa ku lakukan. 


  Namun, kali ini tatapan yang ku berikan berbeda. Aku tak melihat raut wajah yang seperti biasa. 


Raut wajah yang sangat ku tidak sukai. 


Raut wajah terluka dan begitu putus asa. 


Aku benci melihat itu semua. 


  Aku mengepalkan tanganku kuat. Menahan diri agar tak melayangkan tinjuan pada cermin dihadapanku. 


  Kini, buliran bening nan asin itu kembali jatuh. Membuat aku tak bisa memahami diriku sendiri.


  Saat aku merasa emosi, aku selalu seperti ini. Aku tak dapat melampiaskan semuanya pada siapapun dan apapun. Aku hanya bisa menangis dan menangis. Menatap bayangan diriku yang terlihat tak berdaya. 


Kenapa... Aku selalu gagal? 


Pertanyaan itu, kini memenuhi benakku. 


  Apapun yang aku lakukan. Sekeras apapun aku berjuang. Semuanya hanya akan terbuang sia-sia. Semuanya hanya akan berakhir dengan kegagalan. 


  Aku berusaha menenangkan diriku yang akan menangis lebih kencang lagi. Dengan rakus, kuhirup udara sekitar. Lalu ku hembuskan perlahan. 


  Aku kembali menatap cermin. Memberanikan diri menatap bayangan diriku sendiri yang tengah menampilkan sorot mata terluka dan putus asa. 


  Aku mengangkat tanganku. Lalu ku letakkan telapak tanganku di cermin. 


Aku tersenyum manis. 


  "Kamu... Udah lakuin yang terbaik selama ini. Kamu hebat bisa bertahan sampai detik ini. Teruslah berjuang. Meski gagal, kamu harus bangkit lagi. Percayalah semuanya bakal baik-baik aja", monolog ku menyemangati diri sendiri. 


  Aku menurunkan tanganku. Lalu aku kembali tersenyum. Aku menarik nafasku lalu menghembuskan nya. 


  Aku melangkah keluar kamar mandi. Namun perutku kembali berbunyi. 


  Aku menghembuskan nafas lelah, lalu kubawa kakiku berjalan menuju dapur. Aku kemudian membuka kulkas. 


Dan... Kosong. 


  Hanya sekotak besar susu sapi rasa coklat yang kuyakini sudah tinggal sedikit di dalam sana. 


  Dengan langkah malas, aku kembali menuju kamar hanya untuk mengambil sebuah hodie berwarna pink pastel. 


  Kemudian aku berjalan keluar kost menuju jalan raya berniat singgah ke sebuah mini market. 


  Setelah semua selesai, aku kemudian keluar dan kembali berjalan untuk pulang menuju kost-an ku. 


  Saat tengah berjalan, sesuatu terasa mengenai area wajahku. Aku mendongak, memastikan yang sedang kupikirkan benar terjadi. 


From pinterest


  Dan... Yap! Dengan cepat ku berlari menuju halte terdekat. Sesampainya disana, dentuman nyaring mulai terdengar. Hujan deras mulai menyerang atap-atap serta jalanan malam. 


  Perlahan, rasa yang awalnya dingin bertambah dingin seketika. Aku mendudukkan diriku di atas halte, jalanan yang awalnya ramai dengan kendaraan perlahan menjadi sunyi, hanya mobil dengan kecepatan tinggi yang terkadang berlalu. 


"Huh... ", aku menggigil. Sangat dingin. 


  Aku mendongak, menatap langit yang sudah hitam kelam, bahkan sekedar sinar bulan saja enggan memancarkan cahaya redupnya. 


  Hari kian menggelap, ku singsingkan lengan baju yang sudah menutupi kedua telapak tanganku, sudah pukul 23.28, lebih kurang setengah jam lagi maka akan berganti hari. 


  Hujan belum juga reda, ia sepertinya sudah nyaman dengan kegiatan yang tengah ia emban sekarang. 


  Aku mulai memanjatkan do'a-do'a, takut-takut ada orang yang sedang dihinggapi setan datang menghampiriku dengan niat yang tak bisa dikatakan baik. 


  Setelah menunggu sekitar 10 menit kemudian, ku putuskan untuk menempuh jalan pulang, melalui hujan yang sudah agak tenang. 


  Aku berjalan cepat berharap agar jalan ini terasa lebih pendek agar aku bisa menghangatkan diri dengan secangkir teh manis dan mie rebus pedas. Ah, membayangkan nya saja sudah membuatku merasa tak sabar. 


WUSSS 


  "What the--" , aku menoleh, menatap mobil sedan yang baru saja lewat membelah jalanan malam nan hujan ini. 


Sungguh demi apapun... Aku merasa kesal! 


  Bagaimana tidak, dia baru saja membuat pakaianku yang sudah basah ini bertambah basah serta kotor. Apa dia tidak melihat ku disini!? Hei, aku ini manusia, bukan makhluk tak kasat mata! 


  Pada akhirnya aku hanya dapat menghela nafas berat, lalu kembali melanjutkan langkah kaki yang sempat terhenti. 


  Aku berjalan kembali, kali ini tak berniat untuk sampai di rumah secepatnya. 


  Aku melihat kebawah, sendal tebal milikku sudah kotor, sweeter ku juga sudah berubah warna, rambutku juga sudah sangat lepek rasanya. 


  Aku kemudian mendongak, dan menutup mata. Merasakan setiap butiran-butiran air hujan yang terasa dingin menembus kulitku.

 

Ini... Menyenangkan 


  Entah kenapa, udara sekitar terasa lebih segar dari sebelumnya. Paru-paruku terasa bersih. 


  Aku kemudian tersenyum. Kita memang sudah punya rencana, namun tetap Tuhan yang menentukan. 


  Lewat hujan ini, aku belajar. Udara yang sebelumnya kotor, berubah menjadi segar karena adanya hujan. Tumbuhan yang awalnya kehausan akhirnya bisa melepas dahaga karena hujan. 


  Maksudnya, jika tidak adanya hujan, sepandai apapun tumbuhan itu bertahan, ia tetap butuh hujan dan air agar dapat menjalani hidup. Sama hal nya dengan ku. 


  Aku kemudian membuka mata perlahan, dan tersenyum lebar. Sebelum ini, aku hanya mengandalkan kerja kerasku, kepandaian ku, namun aku lupa jika aku memliki Tuhan yang selalu berada disisiku. 


  Kegagalan, bukanlah akhir bagiku, tapi ini adalah awal agar aku meraih kesuksesan dengan cara yang lebih baik. 


  Aku kemudian berlari menerjang kuatnya hantaman butiran hujan yang mulai deras ini. 


Ini... Adalah permulaan bagiku! 


Komentar

Posting Komentar