Longing


Longing

"Kenangan Abu-abu itu Masih Terekam Jelas dalam Benakku"

From pinterest


  Aku memberenggut kesal. Bagaimana tidak, Adrian Maheswara. Kembaran ku yang hanya selisih 5 menit denganku itu, kini berlagak sok paling berwibawa di depan teman lelaki ku, Arga Andwero. 


  Hanya karena kami berdua yang terlahir di hari, tanggal serta tahun yang berbeda. 


Kalian mengerti maksudku kan? 


Okey, aku akan jelaskan sedikit. 


  Adrian Maheswara, lahir pada 31 Desember 2005 pukul 23.57. Sedangkan aku, Adenia Maheswara lahir pada 01 Januari 2006 pukul 00.02. 


Hanya itu, namun ternyata terlalu berakibat fatal untukku. 


  Adrian, selalu bersikap sesuka nya pada diriku. Menyuruh ini itu, melarang ini itu, membatasi kegiatanku, dan banyak lagi. Dia benar-benar menyebalkan. 


  "Oke, gini aja, lo boleh bawa adek gue ini", dia menepuk-nepuk pucuk kepalaku. 


  "Tapi ada syaratnya", ujarnya menjeda sembari menarik nafas. 


"Maksud--" 


  "Sttt... ". Adrian mengisyaratkan agar aku menutup mulutku rapat-rapat. 


  "Kalo sampe nih bocil lecet, gue tendang lo ampe merauke!", ujarnya tegas. 


  Aku hanya bisa menghela nafas lelah, sementara Arga hanya terkekeh pelan. Kemudian lelaki itu menepuk beberapa kali pundak Adrian.

 

  "Tenang bro, gue cuma bawa dia kerkom doang", Arga kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Adrian, "sekalian ngajak adek lo pdkt" . 


  Adrian yang mendengar itu sontak memelototkan matanya garang. 


"Yaelah, bercanda bro" 


  "Ini jadi pergi ga sih!?", aku yang mulai jengah akhirnya membuka suara. 


  "Lagian abang kenapa gini sih!? Kan gue cuma mau kerkom doang bang, bukan keluyuran ga jelas". Jujur saja lama-lama aku juga letih melihat keposesifan kembaran ku ini. 


  "Woi! Ntar kalau lo lecet, yang kena marah siapa!? Gue kan? Yang bakal kena ceramah bunda yang sepanjang tali tambang itu siapa!? Gue kan! Jadi lo itu harusnya bersyukur punya kembaran kayak gue" 


  "Halah, lo keluar dari rahim bunda juga pake kaki gue buat dorong badan lo itu ya!? Lagian juga, gue kena ceramah ma bunda juga kok, bukan lo doang" 


  "Hadeh, udah-udah, ini kalau begini kapan kita mau berangkatnya?", Arga akhirnya menjadi penengah perdebatan kami berdua. Jika dilihat dari mimik wajah nya, terlihat sekali bahwa Arga sangat tertekan. 


  "Yaudah sono! Pergi! Inget, sebelum maghrib, lo udah harus dirumah!", peringat Adrian. 


  "Iya, iya cerewet amat lo. Kalau gitu gue pergi, dadah babang zheyenk", ujarku sembari mengedipkan sebelah mata genit, sementara Adrian bergidik ngeri melihat kelakuanku. 


  "Ho'oh sono pergi lo", aku terkekeh geli kemudian berbalik lagi menuju kearahnya. 


"Mau ngapain lagi!" , ujarnya galak. 


  Aku menatapnya tak suka, lalu dengan malas ku ambil lengan Adrian untuk ku kecupi punggung tangannya. 


"Assalamu'alaikum" , ujarku. 


"Wa'alaikumussalam", jawab Adrian. 


  Aku kemudian berjalan meninggalkan pekarangan rumahku lalu memasuki mobil Arga yang didalamnya sudah ada beberapa anggota kelompok yang juga menumpang padanya. 


  "Adrian posesif juga ya", ujar Ailin, teman kelompokku. 


  Aku hanya terkekeh pelan lalu kulihat dari jauh lewat kaca spion mobil Arga, Adrian yang masih setia berdiri didepan gerbang seperti biasanya, ia selalu melakukan itu saat aku pergi meninggalkan rumah untuk hal-hal diluar jam sekolah. 


  Aku tersenyum kecil, meskipun ia kembaranku dan juga posesif, tapi aku cukup kagum dengan sikapnya yang terkesan dewasa. 


~~~


Slurp 


  Aku menyesap teh hangat yang baru saja ku buat, lalu ku alihkan pandanganku pada langit malam yang bertaburan bintang serta bulan sabit yang memancarkan cahaya nya. 


Aku menatap lama langit itu. 


"See You Again"


Bait terakhir dinyanyikan. 


  Aku tersenyum pedih, kemudian menutup mata sebentar menetralisir rasa sesak yang tiba-tiba menjalar pada dadaku. 


  Perlahan aku membuka mataku lalu menghirup dalam-dalam udara malam yang menyejukkan, sebelum sepersekian detik kemudian aku kembali menatap layar laptop yang sebelumnya ku biarkan begitu saja. 


  "Aku berharap, kita akan segera bertemu. Apa kamu tidak merindukanku? Apa terlalu nyaman dirimu disana hingga kamu melupakan ku disini? Hahaha, aku tau, aku seperti orang gila sekarang. Maaf kan aku karena belum bisa menjadi yang terbaik untukmu, belum bisa menjadi orang yang sebagaimana semestinya. Selalu membuat mu kesal, selalu membuatmu pusing setiap saat. 


  Namun, satu hal yang aku tak akan pernah lupa, jika kau, adalah orang yang sangat aku benci sekaligus sayangi. 


  Tak bisa kupungkiri jika aku begitu merindukanmu saat ini" 


  Aku menghela nafas sejenak kemudian kembali tersenyum dan kembali menatap ribuan bintang diatas sana. 


  "Udah dua tahun ya? Besok gue kesana, nemuin lo" 


~~~


"Assalamu'alaikum abang... " 


  Aku berjongkok kemudian meletakkan sebuket bunga yang baru saja ku beli di atas gundukan tanah yang sudah dipenuhi rerumputan ini. 


"Bang... Lo apa kabar?" 


Aku mengusap nisan yang bertuliskan. 



Adrian Maheswara

Bin

Anggara Maheswara

Lahir : 31 Desember 2005

Wafat : 27 Agustus 2019 



  Aku menarik kedua sudut bibirku berusaha tetap tegar meski tak bisa mengelak jika butiran-butiran bening sudah membasahi pipiku sedari tadi. 


"Bang... Ade kangen...", lirih ku. 



~~~


" Woi bangAd!" 


  Adrian seketika mengerem mendadak membuatku yang tengah berlari dibelakangnya tanpa sengaja menubruk punggung atletis miliknya. 


Adrian membalikkan badannya. 


"Lo ngomong apa barusan!?", ujarnya galak. 


"Gue bilang--" 


"BUNDA!!! ADE NGOMONG KASAR!!!" 


Aku sontak membulatkan kedua bola mataku. 


"What!? Enggak! Kok lo--" 


  "Adek!!! Sini!" , suara wanita paruh baya menginterupsi kami berdua. Membuat aku yang hendak melayangkan protes menjadi urung. 


  Aku melangkah menghampiri wanita paruh baya yang kini berada di ruang keluarga yang sedari tadi tengah menyaksikan sinetron kesukaannya. 


  Aku memasang wajah tak terima,dan Adrian yang memasang tampang galak yang masih ia pertahankan. 


  "Kamu ngomong apa tadi sama abang?", tanya wanita itu dengan lembut. 


  "Adek ga ngomong apa-apa kok bun! Bener!" , belaku. 


  "Halah bohong! lo ngomong kasar tadi" , ujar Adrian tak terima 


"Heh mana ada! Kuping lo bermasalah" 


"Engga, yang salah itu lo" 


"Lo" 

"Lo" 

"Lo" 

"Lo" 

"L-" 


  "Udah-udah!", bunda menengahi pertengkaran kami, lalu wanita itu memijat pelipisnya. 


  "Jadi, tadi kamu ngomong apa Adenia?", tanya bunda berusaha tenang. 


  "Ade gak ngomong kasar bun, bener deh! Suer!" , aku mengangkat dua jariku. 


  "Mana ada, tadi lo bilang 'bangs--' emm", ujar Adrian tak ingin menyebutkan kata itu, bisa-bisanya malah ia yang kena ceramah bundanya ini. 


  "HEH! MANA ADA KAYAK GITU! AKU BILANG BANG_AD BUKAN BANG-- yang itu!" 


  Aku menatapnya tajam sementara yang ditatap hanya menyengir tanpa dosa. 


"Oh", katanya. 


Dan... Yah terjadi lagi aksi kejar-kejaran. 


~~~


  "Widih tumben banget lu rapi", aku memicingkan mata, meneliti setiap inci pakaian syar'i yang dipakai kembaranku ini. 


"Iya dong, biar ukhti-ukhti pada naksir ma gue" 


Plak 


"Aduh!" 


  Adrian mengaduh kesakitan, kemudian ia menggosok lengan atas nya yang baru saja mendapat hadiah tepukan keras dariku. 


  "Asli lo itu mau shalat idul adha atau nyari cewek!? Lo lama-lama gue jadiin kurban bau tau rasa lo" 


Aku memperagakan gaya orang ingin menebas. 


  Bukannya takut, Adrian malah tertawa keras lalu mencubit sebelah pipiku kuat. 


  "Akh!", aku berusaha melepas cubitannya, namun sia-sia, tenaganya lebih kuat dariku. 


  "Utututu.... Lucu banget adek abang yang satu ini... Jadi pengen lempar ke kali" 


~~~


  "Hoy! Dia udah bilang engga, kenapa masih lo paksa!?" 


  Suara dingin mengintimidasi milik seorang lelaki yang familiar ditelingaku terdengar. 


  Aku menoleh lalu mendapati Adrian yang tengah menunduk menatap kebawah. Wajah nya tertutupi bayangan hingga menjadikannya sedikit mengerikan. Ingat! Hanya sedikit! 


  "Bang Ad!?", kedua mataku membola saat melihat Adrian yang tengah bersabar didinding sembari menendang beberapa kerikil menggunakan ujung sepatunya. 


  Ia kemudian menegakkan tubuhnya dan berjalan kearah kami. Ya, kami. 


  Ia menepuk bahu lelaki yang kini tengah berdiri dengan menyodorkan sebuket bunga ke arahku. 


  "Nando Sanjaya. Ck, nama yang bagus", Adrian menyeringai, kemudian menoleh manatapku. 


  "Udah kali keberapa dia nembak lo?" tanyanya padaku. 


  "Em... " aku memainkan ujung kerudung ku. "T-tiga kali", ujarku gagap, entah kenapa aura Adrian begitu berbeda sekali. 


  Adrian kemudian kembali menatap Nando " Ck, Nando, kasian banget gue sama lo, udah ditolak tiga kali loh, lo masih mau sama nih orang?" 


  Seketika kedua mataku membola tak terima mendengar ucapan Adrian. 


"Mak-" 


  "Nih ya, gue kasih tau, Adenia ini demen ama anak santri, mending lo mundur deh" 


What!?


"Bang--" 


  "Kalau pun iman lo dah bagus, tapi tetep aja nih adek gue anti yang namanya pacar-pacaran, jadi daripada lo ngintilin adek gue mulu, mending cari yang lain aja"


  Melihat tak ada respon Adrian tersenyum kemenangan "inget bro, jangan dendam ma gue yak", ujarnya lalu pergi dengan menarik lenganku untuk pergi bersamanya. 


~~~


  "Woi! Lo ambil silverqueen gue ha!?", aku menatap galak ke arah Adrian. 


Adrian mengangguk. "Ho'oh", jawabnya.


  "Adrian astagfirullah!!! Gue pengen ngomong kasar tapi takut dosa!! Lo- sumpah bener²! Itu coklat punya gue woi!!" 


"Yaelah gitu doang, ntar juga beli lagi" 


  "Bukan itu masalahnya, lo itu udah ngambil 3 kali silverqueen punya gue! Sekarang lo beli lagi di mini market depan! Gamau tau gue!" 


"Ah gak ma--" 


  Aku memaksa Adrian berdiri dari duduknya, kemudian mengambil ponsel yang tengah ia genggam. 


  "HP lo gue sita! Sekarang beli dulu silverqueen gue" 


  Adrian berdecak, namun tak urung, cowok itu melangkah keluar rumah menuju mini market. 



~~~


  Aku membuka mataku, menerawang masa lalu yang tak akan pernah terulang kembali. 


  "Bang... Andai aja Allah ngasih kita berdua kesempatan buat lo masih hidup, mungkin sekarang lo lagi ngomel-ngomel karena gue begadang tadi malam" 


  Aku menarik nafas, kemudian menghempaskan nya pelan. 


  "Bang, boleh ga kalau gue egois minta ke Allah biar lo bisa kembali lagi?" 


  Aku terkekeh pelan. "Bukannya seneng, keknya malah ngeri ya bang" 


Aku terdiam sejenak. 


"Bang... Ade rindu... " 


  "Ade... Pengen peluk abang, pengen abang ngusap kepala Ade, pengen abang posesif ke ade lagi" 


  Adrian Maheswara, korban kecelakaan maut 3 tahun lalu, dimana dirinya yang mengalami kecelakaan yang disengaja akibat rem yang tiba-tiba tidak berfungsi sebab ada yang memutus dengan sengaja kabel rem tersebut. 


  Dan pelakunya... Nando Sanjaya. Orang yang selalu mengejar cintaku. Dia lelaki brengsek yang pernah ku temui. Dia--. 


  Dia, meninggal tepat satu minggu setelah kejadian itu, dikarenakan dirinya bunuh diri dengan gantung diri didalam kamarnya.


  Dan kini, rasa benci sekaligus trauma itu masih bersarang setiap kali aku mengingat kejadian itu. 


"Abang... Ade... Kangen banget sama abang... " 


"Ade... Hiks... Ade..." 


Aku mencoba menenangkan diriku. 


"Ade sayang abang" 


  Aku tersenyum lembut kemudian kembali mengusap nisan keramik berwarna hitam dihadapanku. 


  "Ade... Pergi dulu ya bang... Ade... Sayang abang" 


Aku berdiri. 


  "Assalamu'alaikum bang, Ade pergi dulu, kalau ada waktu Ade kesini lagi". 


  Dan aku beranjak meninggalkan area pemakaman. 


=====


Kerasa ga feelnya??? Engga lah ya masa iya, soalnya kan engga jleb jleb amat, ntar bagusnya saia buat cerita apaan lagi ya? Request dong prennnn

*Mohon maaf bila disini masih ada kata-kata yang kurang berkenan, soalnya saia buru-buru buatnya, sekali jalan sama cerita satu lagi (masih mau revisi) . 

Sekian dulu!!! Ntar kalau niat lagi, aku buat lagi. Papayyyy

Komentar

Posting Komentar