Who? (1)
Who? (1)
"Misteri Gudang"
From pinterest
Konon katanya, terdapat sebuah ruangan terbengkalai di lantai dua SMA Juanda. Ruangan yang senantiasa berada dalam kegelapan, sebab cahaya mentari yang enggan memancarkan sinarnya barang sedikit saja.
Bukan, itu bukan hanya sekedar ruangan gelap dan kelam. Tetapi gudang dengan berbagai benda yang sudah tak layak pakai. Bahkan tempatnya tak pernah dibersihkan setelah dua tahun lamanya.
Rumor mengenai keangkeran gudang itu sudah tak asing lagi dalam telinga warga SMA Juanda. Dari kalangan atas sampai kalangan bawah, dari tua sampai yang muda, dari direktur sampai murid-murid.
Tapi mengapa ruangan itu dibiarkan begitu saja?
Jawabannya hanya satu. Karena penghuni ruangan yang sangat tak suka diusik.
Tapi, kembali lagi pada pemikiran setiap orang. Mungkin sebagian besar warga sekolah mempercayai cerita tersebut. Namun, ada juga beberapa dari mereka yang merasa itu hanya bualan semata. Contohnya para guru-guru, para pejabat sekolah, dan beberapa anak yang memiliki pemikiran logis. Seperti...
"Hantu itu tak ada"
"Jangan percaya pada dongeng seperti itu"
"Sangat tidak penting"
"Jaman sekarang, memang masih ada yang percaya akan hal itu?"
"Tempat itu sudah tak layak huni, dan posisinya juga berada di tengah gedung. Sangat mustahil jika sekolah merombak ruangan itu"
Aku termasuk salah satunya. Yang tak percaya pada dongeng turun-temurun seperti itu.
Jika memang benar, dulu disitu memang ada anak yang bunuh diri, kenapa ia harus bergentayangan?
Kebanyakan anak pintar percaya pada dongeng seperti itu. Lalu aku? Si paling masuk tiga besar selama satu tahun ini dalam dua semester berturut-turut.
Aku akui, aku memang seorang yang jenius. Namun, jangan pernah sekalipun kalian berfikir bahwa aku adalah anak yang rajin, bersungguh-sungguh dan giat dalam belajar. Anak teladan. Bahkan seorang anggota organisasi resmi sekolah?
Garis bawahi kalimat ini.
Semua itu adalah salah besar!
Aku adalah seorang gadis nakal yang selalu berbuat onar. Selalu bolos di mata pelajaran yang tak terlalu kusenangi, dan langganan terlambat. Sering keluar masuk BK. Sering mendapat hukuman. Tapi sekolah tak pernah bisa mengeluarkan aku dari sekolah.
Hah! Jika sekolah mengeluarkan ku, lalu siapa yang akan membuat sekolah ini selalu berada di peringkat atas dengan murid tercerdas? Ck, jadi seharusnya mereka berterimakasih padaku.
Namun sebuah insiden tak terduga kini tengah kualami.
Aku berdiri didepan pintu besi yang sudah berkarat ini.
Bukan, bukan itu poin utamanya. Tapi...
Aku berada disini bersama dia. Ratu bully dengan kecantikan yang tak terbatas. Kata mereka, para kaum adam yang hanya memandang fisik.
Lama kelamaan aku jadi jengah sendiri. Saat pertama bertemu, dia berlagak sok paling kuat dengan membully teman kelas yang lemah. Lalu bersolek bak tak ada hari esok. Lalu kini? Bahkan make up yang sudah setebal buku kamus itu sudah luntur. Sebab, keringat dingin yang sudah mengucur dari dalam pori-pori.
Hiburan tersendiri bagiku.
Aku lalu masuk kedalam dengan langkah santai. Mendengar tak ada suara langkah kaki yang mengikuti ku, spontan ku menoleh ke arah belakang.
"Lo mau berdiri disitu sampai kapan?", tanyaku heran.
Mendengar tak ada respon, aku menoleh kembali lalu berkata, "katanya queen bully, tapi belum apa-apa udah keringet dingin aja", aku menjeda ucapanku lalu terkekeh pelan, "make up nya luntur tuh, muka busuk nya kelihatan".
Lalu ku kembali melangkah. Ku prediksi, kini pasti ia sedang menahan amarah, ya setidaknya ia menyalurkan itu semua dengan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dan itu benar.
Saat aku hendak mengambil sebuah kardus yang menghalangi jalan. Samar-samar ku melihat dia berjalan dengan langkah tuan putri kerajaan yang hendak menghadiri sebuah acara resmi.
Ia melangkah mendekat ke arahku dengan tatapan menantang tapi tersirat ketakutan.
Namun, baru beberapa langkah sebuah kardus lain yang berada diatas sebuah lemari terjatuh. Membuat diriku segera menoleh ke arah barang tersebut. Namun tidak dengan queen bully.
"AAAAAAAAA" , ia berteriak hingga lima oktaf. Argh! Itu membuat kupingku berdenging menahan nyeri.
"Sialan", umpat ku tertahan.
Baru saja aku ingin memakinya, ia malah sudah lari duluan keluar gudang.
"Ck, cemen", gumamku.
Lalu aku kembali fokus pada pekerjaan awal ku.
Aku suka bersih-bersih, dan juga waktu sendiri seperti ini. Ada baiknya juga jika 'dia' ketakutan tadi.
Saat tengah menyusun beberapa buku, ku rasa ada seseorang yang tengah memperhatikan ku dari kejauhan. Memilih menepis perasaan aneh itu, aku kembali menyusun barang-barang yang tadi ku biarkan begitu saja.
Baru saja aku menyentuh buku itu, sebuah barang kembali jatuh diiringi suara halus yang mengerikan.
" J-jangan sentuh~ Jangan ganggu~" , ujarnya dengan suara yang semakin pelan.
Aku menghela nafas. Nakal-nakal begini aku masih ingat Tuhan ku. Aku kemudian merapalkan ayat kursi berharap jika jelmaan setan itu segera enyah dari sekitarku.
Tapi kurasa itu tak berpengaruh.
Dan dari situlah aku merasa...
Ada yang tidak beres.
Memilih meninggalkan pekerjaan ku, aku berjalan perlahan, berusaha masuk lebih dalam lagi.
Ku edarkan seluruh pandanganku ke arah sekitar jalan yang kini tengah ku lewati. Tak ada apa-apa. Hanya kardus serta beberapa meja dan kursi yang telah usang.
Ku terus melangkah. Hingga sebuah benda menghentikan ku. Hm... Apa itu benda?
Benda itu berwujud cair dan sedikit kental. Warnanya merah sedikit pekat.
Benda itu jatuh dari arah atas.
Satu tetes...
Dua tetes...
Tiga tetes...
Hingga aku baru menyadari bahwa itu...
DARAH!?
"A-apa apaan ini!?" , ujarku sedikit panik. Apa rumor itu benar!? Oh astaga aku... Apa ini benar-benar--?!
Aku berjalan mundur, namun sialnya aku menabrak tumpukan dus yang sudah rapuh. Membuat beberapa kardus yang tersusun malah berjatuhan.
Dengan gerakan cepat aku menghindari tumpukan kardus tersebut.
"Uhuk-uhuk", aku terbatuk sebab beberapa debu serasa memenuhi rongga pernafasan ku sekarang, membuatku mengibas-ngibaskan telapak tangan berharap mengurangi pasoka debu yang masuk.
Namun setelahnya hal yang tak pernah kuduga berada di hadapan mataku sekarang ini.
Membuat ku terkejut setengah mati.
Dengan spontan ku membulatkan mata tak percaya, rahang ku serasa hampir jatuh, jantungku berdegup dua kali lebih cepat.
Dan itu adalah...
~~~
Gak cukup lanjut part 2~
Xixixi
Ih gimana-gimana? Seru ga? Ga bisa banget bikin cerita kayak begini.
Tapi mudah-mudahan seru ya~\(^o^)/
Nantikan kelanjutan cerita nya 3 hari atau 7 hari ke depan~
Hehe
Kasih kesan, pesan, saran maupun kritikan~
Tapi kritikannya jangan yang jleb amat ya(ᗒᗩᗕ)
See u next time guys!

Ini genre horor ya zizi😯👍
BalasHapusIyhh:>
Hapusseruuu banget
BalasHapus