Birthday (1)
Birthday (1)
"Demi Anna"
From pinterest
Sore itu, langit begitu mendung. Angin sudah berebut ingin mencapai garis finish yang keberadaannya entah dimana.
Dengan dibaluti sebuah jaket rajut buatan tangan yang sudah tampak usang, seorang gadis berjalan begitu cepat melewati trotoar.
Dengan berharap agar ia dapat sampai ketempat tujuan tanpa menyentuh sebutir air hujan pun.
Namun sepertinya Tuhan tak mengizinkannya. Tiba-tiba, hujan turun dengan begitu derasnya. Tanpa diiringi dengan embel-embel, hujan gerimis.
Gadis itu semakin mengeratkan lipatan tangannya, giginya saling beradu, bibirnya begitu pucat.
Kini ia memilih berlari, tak ada waktu untuk sekedar berteduh. Ia sudah terlambat.
"Anna!"
Suara itu, membuat seorang gadis kecil menoleh menatap seorang gadis remaja yang kini tengah tersenyum hangat kearahnya.
"Kakak!", ujarnya dengan hati gembira. Dengan segera ia memeluk tubuh kurus gadis remaja itu. Tak peduli jika kini tubuhnya juga ikut basah.
"Jangan peluk kakak, nanti kamu ikutan basah", suara lembut dan hangat itu terdengar, sembari berusaha melepas pelukan gadis kecil itu dengan lembut. Namun, gadis kecil itu tak juga mengindahkan perkataan orang yang ia sebut kakak.
"Gak mau! Anna pengen peluk kak Fanya!"
Fanya Adilfa Putri, gadis yang kini menjadi tempat peluk bagi Anna Nayara Putri.
Seorang perempuan yang paling berharga bagi Anna. Seorang yang Anna tau bahwa kini kakaknya itu tengah merasa kedinginan.
"Udah gapapa, yuk kita pulang", ujar Fanya sembari membuka payung yang berada dalam tas Anna.
Selepas membuka payung itu, Anna mendongak menatap Fanya yang lebih tinggi beberapa cm darinya.
Kebanyakan orang berkata, kasih sayang seseorang dapat diukur dari cara ia memayungi seseorang yang ia sayangi. Ada yang memayungi dirinya dan yang lain. Ada yang rela jika bahunya terkena hujan asal orang yang ia sayangi tak terkena hujan sedikitpun, dan ada juga yang membiarkan sebelah tubuhnya terkena air hujan.
"Kakak kenapa ga pake payungnya juga?", tanya Anna menatap Fanya.
Fanya tersenyum "Kamu aja, lagian payungnya kecil, badan kakak kan besar", ujarnya memberi pengertian.
Dan Fanya... Memberikan seluruh tempatnya hanya untuk Anna.
"Kak! Kakak tau ga? Tadi kan Anna buat gambar hewan, terus Anna ngegambar kelinci. Kata ibu guru sama teman-teman, gambar Anna lucu", ujarnya begitu bangga.
Fanya lagi-lagi hanya bisa tersenyum "Oh ya? Nanti tunjukin ke kakak ya, kita pajang di dinding"
"Oke!!!"
Dan dengan bahagianya Anna melompat riang selama perjalanan pulang.
Sesampainya di rumah yang tak terlalu besar ini, Fanya membawa Anna masuk kedalam, lalu membantu menyiapkan pakaian adiknya dan membuat teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya serta Anna. Ia juga mengganti pakaiannya sebelum akhirnya ia pamit pada Anna.
"Anna, kakak kerja dulu ya", ujar Fanya setelah melihat adiknya itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian rumah yang ia siapkan tadi.
"Kakak udah mau pergi? Yaudah, hati-hati ya kak" , balas Anna dengan wajah yang terlihat ragu.
Fanya yang peka pun bertanya "Anna, mau apa?", tanyanya.
Anna menggoyang-goyangkan badannya. Ada perasaan tak enak yang terpancar dari kedua netranya.
"Bilang aja" , ujar Fanya memberikan kelapangan pada Anna.
"Itu... "
Anna menunduk sembari memainkan ujung bajunya.
"Kenapa hm? Bilang aja"
Anna masih bimbang, namun ia mencoba memberanikan diri.
"T-tadi... Luna ulang tahun. Papa sama mamanya ngebawain kue ulang tahun, trus kasih es krim untuk satu kelas. Kak... Anna pengen juga"
Anna mengangkat kepalanya. Mendongak dan menatap mata Fanya.
Dilihatnya tatapan terkejut dari raut wajah Fanya.
Sedangkan Fanya, gadis itu berusaha mengontrol emosinya. Menahan diri agar tak menangis. Meski dadanya kini begitu terasa sesak, nafasnya serasa tercekat dan tenggorokannya yang tiba-tiba mengering.
Ingatan lima tahun lalu kembali berputar dalam pikirannya. Ingatan yang sangat ingin ia hapus. Namun tetap saja. Seberapa kuat ia mencoba, nyatanya ingatan itu akan terus membekas sampai kapanpun.
Saat itu...
"Ma, nanti pas ulang tahun Fanya, rayain ya ma. Papa juga harus ikut! Jangan kerja terus", ujar Fanya yang saat itu masih duduk dibangku kelas 6 SD dengan raut wajah memohonnya.
Sedangkan orang yang ia sebut mama dan papa hanya bisa terkekeh pelan.
"Iya, papa bakal luangin waktu. Nanti kita buat pesta nya ya"
"Janji ya! Dedek Anna juga ikut!", ujar Fanya antusias dengan melihat Anna yang saat itu masih berusia 5 tahun.
"Iya sayang, iya. Padahal kamu udah kelas 6. Kok masih gini sih?" , mama mulai bersuara.
"Ih biarin aja! Suka-suka Fanya dong!"
"Assalamu'alaikum"
Suara ngebass itu memenuhi ruangan. Mengalihkan antesi semua orang padanya.
Terlihat seorang lelaki dengan pakaian sma dibaluti hoodie itu masuk dengan langkah yang gontai.
"Abang!!!". Fanya melompat dari kursinya, lalu berlari menghampiri lelaki itu dengan begitu bersemangat.
"Fanya! Adek cantik abang", seru lelaki itu dengan langsung mengangkat tubuh Fanya dalam gendongannya.
"Abang... ", kini suara kecil nan lucu milik Anna yang terdengar.
"Eh eh, Anna juga sini!", panggil lelaki itu.
Lelaki itu menurunkan Fanya lalu mengangkat tubuh Anna dalam gendongannya.
"Abang Angga lama banget. Kok nginep di rumah temen sampe seminggu sih!?", kesal Fanya dengan kedua tangan yang kini ia lipat didepan dada.
Angga hanya terkekeh pelan. " Maaf ya... Soalnya kan udah mau ujian, kalau abang pulang balik gini, abang jadi kecapean" , ucap Angga memberi pengertian.
Hati Fanya tergerak. Lalu ia mengangguk memaklumi. "Oke! Abang yang semangat ya belajarnya!"
"Iya dek, makasih ya" , yang dibalas anggukan oleh Fanya.
"Aduh saking enaknya, kita berdua dilupain nih, iya gak pa?", suara lembut nan anggun itu kini mulai terdengar.
"Iya bener tuh, kalau gini mending kita kekantor aja deh ma, papa masih ada kerjaan nih"
"Jangan!!!", ujar ketiga anak-anak itu serempak. Membuat tawa kedua orang tua itu pecah.
"Iya-iya bercanda doang kok. Ayo sini lanjut makan", panggil sang mama.
"Siap!"
"Oh ya bang, nanti papa mama mau ngadain pesta ulang tahun buat Fanya, abang dateng kan?"
"Pastinya dong, apasih yang ga bisa buat adek abang ini?", ujar Angga sembari menoel hidung kecil milik Fanya.
Hari dimana pesta ulang tahun Fanya pun tiba. Tak banyak yang datang, hanya teman-teman Fanya serta paman Riko, abang papa yang kebetulan sedang berkunjung ke kota ini.
Semuanya berjalan lancar hingga suara ledakan membuat semua orang seketika menjadi panik.
"Papa!!!"
Suara melengking itu begitu terdengar memekakkan telinga. Mama baru saja berteriak, melihat papa yang sudah terkulai lemas di bawah sana.
"Ma... Papa--"
Lagi-lagi suara ledakan itu terdengar diiringi suara keras seperti benda yang baru saja terjatuh.
Sebelum sempat bersuara, Angga segera menarik tangan Fanya dan menggendong Anna menjauh. Lalu ia meletakkan keduanya dekat pohon besar diluar bangunan itu.
"Kalian... Jangan kemana-mana. Tetap disini. Tunggu sampai abang kembali okey? Kalau abang ga kesini lagi, nanti kalian pergi ke rumah tante Cika. Tau jalannya kan?"
Fanya mengangguk, dengan raut wajah ketakutan ia hanya bisa mengiyakan tanpa bersuara.
"Okey, kalau gitu abang pergi ke dalam dulu", ujar Angga berusaha tak panik. Namun sebuah tangan mungil menyentuh lengan kekarnya. Membuat Angga seketika menghentikan langkahnya.
"Abang... Disini aja... Fanya takut... ", ujar Fanya dengan nada gemetar.
Angga menyentuh lalu menggenggam tangan kecil Fanya. "Abang usahain balik lagi ya" , ujar nya meyakinkan, lalu menarik Fanya dan Anna dalam pelukannya.
"Abang... Sayang kalian berdua"
Itu kata-kata terakhir Angga, sebelum lelaki itu melangkahkan kaki kembali memasuki bangunan tempat pesta ulang tahun Fanya diadakan.
Sudah dua jam berlalu. Namun, Angga tak kunjung menampakkan batang hidungnya.
"Kak... Anna ngantuk... ", ucap Anna berusaha menahan kantuk yang sudah membebani nya.
"Bentar ya Anna... "
Fanya memutuskan menunggu satu jam lagi. Namun, hasilnya masih sama. Angga tak kunjung kembali.
Samar-samar ia melihat segerombolan orang berjas hitam keluar dari ruangan itu, banyak orang yang diseret dengan begitu tak manusiawi nya, dan Fanya melihat itu semua.
"Papa... Mama... " , ujarnya lirih, melihat kedua orang tuanya yang kini ikutan diseret.
Fanya menahan isakannya. Sementara Anna, sudah tertidur setengah jam yang lalu dengan tubuh yang bersandar pada sebuah pohon besar disana.
Setelah semua orang itu pergi. Fanya mencoba berdiri. Ia kemudian membangunkan Anna. Ia berusaha membuat wajah se netral mungkin. Seperti tak terjadi apa-apa.
"Anna... Kita kerumah tante Cika ya", lirih Fanya lembut.
"Eung?". Anna yang setengah sadar pun mengucel matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk dalam netranya.
"Abang ga balik kak?", tanyanya.
"Kakak ga tau", lirih Fanya serak. Namun setelah itu ia menarik nafasnya dalam lalu dihembuskan secara perlahan.
"Yok kita pergi", ajaknya mengulurkan tangan pada Anna.
"Yok", balas Anna.
Setelah itu Fanya dan Anna pergi ke rumah Tante Cika. Sahabat mamanya yang tak mempunyai anak maupun suami. Ia begitu menyayangi Angga, Fanya, dan Anna.
Sesampainya di rumah Tante Cika. Wanita itu menyambut mereka dengan senyuman sendu. Angga sudah mengabari nya beberapa jam yang lalu. Dan hal itu tak membuat Tante Cika merasa tenang. Namun, hal yang ia doakan setidaknya terwujud, meski hanya sebagian.
Sejak saat itu, Fanya dan Anna dibesarkan dan di asuh oleh Tante Cika. Ia selalu mencukupi kebutuhan Fanya dan Anna, meski tak sebanyak yang orang tuanya berikan dulu.
Namun, tiga tahun pasca peristiwa itu terjadi, sebuah musibah kembali menghampiri dua kakak beradik ini. Tante Cika meninggal dunia, sebab penyakit anemia yang ia derita.
Perlahan uang yang Tante Cika berikan mulai menipis. Bahkan Fanya yang saat itu masih kelas tiga SMP terpaksa banting tulang, untuk mencukupi kehidupan dirinya dan Anna.
Dan seperti inilah ia sekarang. Seorang siswa kelas dua SMA masih dengan posisi yang sama, yaitu menatap Anna dengan pandangan kosong.
"Kak... Ngga boleh ya? Kalau ga boleh gapapa kok", ucap Anna berusaha tersenyum.
Hal itu membuyarkan lamunan Fanya. "Eh? Oh boleh... Nanti... Kakak usahain", ucapnya dengan senyum manis dan tangan yang mengelus pucuk kepala Anna.
"Beneran!? Huaaa makasi kakak", ujar Anna senang dan langsung memeluk tubuh Fanya.
"Iya. Yaudah, kakak pergi kerja dulu ya", ujar Fanya sembari melepas dekapan Anna.
Fanya menatap jalanan itu dengan kosong. Ulang tahun? Bahkan kata itu membuatnya begitu merasa ketakutan.
Sebagian besar orang mungkin akan merasa senang jika mendengar tentang Ulang Tahun. Namun tidak bagi Fanya. Hal itu adalah luka yang sangat ia hindari.
"Kemana cari uang buat beli kue sama es krim? Makan sehari-hari aja ga cukup", gumam Fanya sembari menghela nafas berat.
"Apa... Aku perlu cari kerja tambahan lagi ya?"
Ia masih memikirkannya. Namun entah dari mana, tiba-tiba wajah ceria milik Anna terlintas begitu saja dalam pikirannya. Membuat Fanya seperti tersambar petir yang membuatnya berenergi.
"Demi Anna!", gumamnya tegas
~~~
Bersambung~
Cerita ini aku ambil dari tugas B. Indo yang ga jadi. Karena ternyata temanya+alurnya beda:v
Jadi, daripada mubazir mending aku kirim kesini deh, hehe
Nantikan lanjutannya guys~

ceritanya baguus zii
BalasHapussemangat yaaa
kerennn semangatt yaa✊✊
BalasHapus