Birthday (2)

 Birthday (2) 

"Anna's Birthday"



"Demi Anna!", gumamnya tegas. 


  Mulai hari itu Fanya bekerja seharian. Mulai dari pulang sekolah hingga malam hari, ia akan bekerja dua tempat secara bergantian. Bahkan hari minggu pun ia tetap bekerja. 


  Tugas sekolah? Ia akan mencuri waktu untuk mengerjakan tugas itu saat kerja paruh waktu ia lakukan. 


  Setelah satu bulan bekerja, akhirnya gaji pun ia terima. Meski tak seberapa. Setidaknya itu cukup untuk membeli kue dan es krim untuk ulang tahun Anna. 


  Fanya berjalan di trotoar. Hari ini, selepas menerima gaji, ia begitu bahagia. Namun, saat tengah asyik membayangkan dirinya dan Anna. Tak sengaja matanya menangkap sosok seorang wanita paruh baya tengah berjalan menyeberangi jalanan yang besar. 


  Lalu dari arah depan terlihat sebuah minibus yang melaju cepat. 


  "Tante! Awas!", teriak Fanya lalu berlari sekuat tenaga, dan mendorong wanita itu ketepi jalan. 


Dan... Fanya mengorbankan dirinya. 


  "Kak... Bangun... Kak... ", suara menyedihkan milik Anna terdengar. Ia menatap nanar orang yang ia sayangi berada di hadapannya tengah terbaring lemah diatas barankar rumah sakit. 


  "Udah gapapa, kakak cuma luka sedikit aja kok", ucap Fanya menenangkan. 


  Akibat tabrakan itu, Fanya menderita patah kaki dan cedera pada bahu. Tapi untung saja itu dapat diatasi. 


  Fanya mengangkat sebelah tangannya yang bebas dari alat medis apapun, lalu diusap nya sebelah pipi Anna dengan lembut. 


  "Maaf ya... Gara-gara kakak, kamu ga bisa beli kue ulang tahun sama es krim", ucap Fanya merasa bersalah. 


  "Gapapa, tahun besok masih bisa. Lagian ini juga salah Anna karena banyak maunya". Anna meletakkan tangannya diatas telapak tangan Fanya yang kini tengah mengelus pipinya. 


  "Heh! Jangan ngomong gitu. Anna banyak maunya itu wajar, kakak malah seneng. Ada yang mau kakak perjuangin kalau gitu" 


"Beneran?" 


"Iya" 


  Suara pintu ruangan membuat mereka berdua menoleh secara bersamaan. Disana, berdiri seorang pria dan wanita paruh baya, serta seorang lelaki muda. 


  "Gimana keadaan kamu nak?" , tanya pria paruh baya itu. 


"Baik kok om" , balas Fanya. 


  "Sekali lagi saya ucapkan terimakasih buat nak Fanya",  wanita paruh baya itu pun bersuara. 


  "Sama-sama tante, sudah kewajiban saya membantu", balas Fanya tersenyum tulus. 


  "Untuk biaya rumah sakit akan saya ganti ya nak Fanya" 

 

"Ah, ga usah repot-repot om, gapapa kok" 


 "Mohon diterima, saya ga nerima ada penolakan", ucapnya tegas tak terbantah. 


"Dan untuk... " 


  Pria paruh baya itu bergeser, lalu menampakkan seorang lelaki yang jauh lebih muda. 


"Ini... " 


  Namun sebelum selesai mengucapkan kalimatnya. Fanya berteriak heboh. 


"Bang Angga!?", ujar Fanya tak percaya. 


  "Bukan, saya bukan Angga, tapi Saga", ucap lelaki muda itu datar. 


  "Ah...  Maaf", ucap Fanya tak enak hati.  Gadis itu menunduk menahan rasa kecewa. 


"Angga Sagaswara Putra", lanjut lelaki itu. 


  Membuat Fanya kembali mendongak. "Beneran!?", tanya Fanya. 


Saga mengangguk. 


"Yeay bang Angga!!!" , seru Fanya bahagia. 


"No, bang Saga", ralat Saga. 


"Kok gitu?", tanya Fanya bingung. 


  Saga tersenyum hangat, "Abang pengen di panggil Saga", ujarnya. 


  Fanya hanya mengangguk, enggan bertanya lebih dalam lagi. "Fanya boleh peluk abang?" , tanya Fanya. 


"Enggak", jawab Saga. 


"Loh kenapa?", tanya Fanya sedih. 


"Kamu sakit Fanya, ga boleh banyak gerak" 


  "Ih abang mah gitu", Fanya mempoutkan kedua bibirnya. 


  "Nanti pas kamu sembuh kamu boleh peluk abang sepuasnya", ucap Saga sembari mengelus pucuk kepala Fanya. 


"Bang...?" 


  Semua atensi mengarah pada Anna, gadis kecil itu tampak kebingungan. "Maksudnya apa sih? Anna ga ngerti" 


  Fanya terkekeh pelan, "Oh iya, Anna... Ini bang Saga. Anna ingatkan kalau kita punya abang dulu?" 


"Kita... Punya abang?", tanya Anna. 


  "Iya punya", jawab Fanya. "Bang Angga, ingat kan?" , lanjut Fanya. 


Anna menggeleng, "Engga inget". 


  "Udah-udah gapapa, itu ga penting. Yang penting, Anna sama Fanya punya abang, dan abangnya itu adalah--", Saga menunjuk dirinya sendiri. 


"Bang Saga" 


"Bang Saga?" 


Saga mengangguk. 


  "Tapi kok bang Saga bisa disini?", tanya Fanya. Akhirnya gadis itu mengeluarkan apa yang sedari tadi bersarang dalam pikirannya. 


  Saga tersenyum lalu menarik nafas dalam sebelum akhirnya ia mulai bercerita. "Dulu, setelah penembakan itu terjadi. Abang lari dari bangunan itu. Karena setelah abang masuk kedalam, om Riko memang udah nunggu abang untuk dijadikan korban selanjutnya. 


  Ngelihat itu, abang langsung lari. Karena abang yakin ga ada orang yang bisa diselamatkan lagi. Bahkan Papa sama Mama. 


  Abang pergi, kemana aja. Abang ga balik lagi karena abang takut mereka tau tempat sembunyi kamu, soalnya abang dikejar sama mereka. 


  Abang terus lari sampai abang dibantu seorang ibu dari panti asuhan. Abang tinggal disitu sampai Ayah sama Bunda dateng trus adopsi abang. 


  Awalnya abang ga paham kenapa mereka mau adopsi abang yang udah remaja kayak gini. Tapi ternyata mereka itu sahabat jauh papa. Dan ya, mereka ngasuh abang sampai sekarang." jelas Angga panjang lebar. 


  Fanya membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O' lalu ia menoleh ke arah pria dan wanita paruh baya yang kini tengah tersenyum ke arahnya. 


  "Kami juga berniat mengadopsi kamu dan Anna, apa kalian bersedia?", tanya pria paruh baya. 


"Beneran om!?",  tanya Fanya tak percaya. 


"Iya", jawab pria itu. 


"Mau! Anna mau!" 


  Anna yang bersuara lebih dulu. Dengan semangat gadis itu menjawab dengan lantang. 


  Pria paruh baya itu tersenyum lalu kembali menatap Fanya, menanti jawaban tetap gadis itu. 


"Iya, Fanya mau", ucap Fanya malu-malu. 


  Saga bernafas lega. Keinginannya untuk kembali seperti dulu kembali terwujud. Tuhan memang punya skenario yang indah. Sedangkan kita sebagai makhluk-Nya hanya dapat berekspektasi dan berharap serta berdoa yang terbaik. 


  Hari ini, Fanya dipulangkan kerumah. Rumah baru, lembaran baru dan kebahagiaan yang baru. Semua itu tengah menanti Fanya di depan mata. 


  Dan hari ini juga pertama kalinya ia melangkah kan kaki di rumah besar dan suasana yang hangat seperti dulu. 


  Makan malam begitu terasa sangat menyenangkan. Masing-masing dari mereka saling melemparkan pertanyaan ringan satu sama lain, dan tertawa begitu lepas. 


  Malam itu, Fanya serasa dilahirkan kembali. Untuk pertama kalinya ia tak perlu memikirkan keuangan, makan untuk besok, dan bagaimana ia akan menghidupi Anna. Sebab, kini semua itu ditanggung oleh orang tua barunya. 


Ayah dan Bunda. 


  "Abang!!!", Anna berlari menghampiri Saga, kemudian memeluk lelaki itu dengan erat. 


"Anna kangen" 


  "Loh? Abang baru aja berangkat tadi pagi, kok udah kangen aja?", gemas Saga sembari menoel hidung Anna. 


  Sementara Fanya hanya tersenyum dari arah ruang keluarga, melihat bagaimana bahagianya Anna sekarang, itu sudah sangat cukup baginya. Dan kini ia bisa menjadikan Bang Saga, Bunda, dan Ayah sebagai tempat sandaran baginya. Ia sudah tak perlu lagi memikirkan apa yang seharusnya tak ia pikirkan. Ia kini sudah tak memendam apapun  sendirian lagi. 


"Fanya, ga kangen sama abang?", tanya Saga. 


  "Kangen dong", Fanya bangkit lalu berlari kecil ke arah Saga. Gadis itu memeluk Saga dengan erat. 


"Aduh, Bunda ikutan dong" 


"Anna juga!" 


"Ayah juga" 


  Dan malam itu, suasana hangat kembali menyapa malam mereka bersama. 


  Setelah puas berpelukan, mereka pun melonggarkan dan melepas pelukan satu sama lain. 


  Saga menunduk, menyamakan tingginya dengan Anna. "Oh iya, siapa nih yang mau ulang tahun?", tanya Saga menoel hidung Anna. 


"Anna dong!!!", jawab Anna antusias. 


Saga terkekeh pelan. 


  "Loh? Anna udah mau ulang tahun? Anna mau apa dari Ayah?" 


  Anna nampak berpikir. Ia lalu melirik Fanya dan dibalas anggukan oleh Fanya. 


  "Anna mau ulang tahun Anna dirayain disekolah!", ujar Anna begitu bersemangat. 


  Saga menoleh menatap Fanya, lalu ia kembali menatap Anna. "Okay kue nya bakal abang pesen, pas hari ulang tahun nanti kuenya datang ya!" 


"Sekalian sama es krim!!" 


"Haha, iya, sama es krim", jawab Saga terkekeh. 


"Kalau gitu abang ke atas dulu ya" , pamit Saga. 


"Iya" 


  "Fanya sama Anna juga mau ke atas ya Bun, Yah. Selamat malam", pamit Fanya. 


"Iya, selamat malam Fanya, Anna" 


  Setelah mengantar Anna kedalam kamar, Fanya lalu masuk ke kamarnya juga. 


  Sudah satu jam semenjak Fanya mencoba tidur. Namun, matanya tak kunjung tertutup. 


Resah. 


Itu yang dirasakan Fanya kini. 


  Pintu terbuka, menampilkan sesosok lelaki tampan dengan pakaian putih polos dan celana hitam selutut. 


"Kenapa belum tidur hm?", tanya Saga. 


  Fanya terdiam, enggan menatap Saga. "Keinget yang dulu?", tanya Saga lagi. 


  Fanya hanya mengangguk membenarkan. Lalu menatap Saga dengan mata yang berkaca-kaca. 


"Fanya takut bang... ", lirih nya. 


  Saga menarik Fanya kedalam pelukannya. "Gapapa Fanya, InsyaAllah itu ga bakal terjadi lagi. Kamu harus lawan rasa takut kamu okey?", ujar Saga dengan nada lembut, sesekali mengelus rambut Fanya yang kini berada dalam dekapannya. 


  Saga melonggarkan dekapannya, "Kamu pasti bisa!". 


Fanya mendongak. "Abang yakin?" 


  Saga mengangguk dan dibalas senyuman manis oleh Fanya. 


  "Yaudah, karena sekarang udah tengah malam, gimana kalau kita shalat tahajjud dulu?" , tanya Saga. 


"Boleh", jawab Fanya. 


  Saga tersenyum lalu mengelus pucuk kepala Fanya. "Gih sana wudhu, trus shalat, abang balik ke kamar lagi ya" 


Fanya mengangguk. "Selamat tidur bang!" 


  "Selamat tidur Fanya", balas Saga terkekeh pelan. 


  Hari yang ditunggu Anna telah tiba. Dan sekarang ia tengah merayakan ulang tahunnya yang kedua belas dengan teman sekelasnya. 


"Selamat ulang tahun Anna!" 


"Happy Birthday Anna!" 


"Nih kado buat kamu" 


"Semoga panjang umur ya" 


Dan masih banyak lagi. 


  Hari ini. Anna mengisi harinya dengan penuh senyuman bahagia. Keluarganya kini lengkap. Fanya kini sudah tak bersusah payah mencari uang lagi. Dan ia kini juga bisa meminta apa saja dari kedua orang tuanya. 


Anna... Bahagia. 


  "Wih banyak banget kado Anna, muat ga ya di mobil abang?". Saga nampak berpikir. 


"Ih muatlah, mobil abang aja segede ini" 


  Saga terkekeh. "Bener juga. Yaudah deh, sekarang kita jemput kak Fanya?", tanya Saga. 


"Let's go!" 


  Dan begitulah hari-hari berjalan. Fanya dan Anna yang diantar jemput Saga. Dan saga yang akan ke perusahaan untuk mempelajari bagaimana jalannya perusahaan milik ayah. 


"Hari ini kita kemana?", tanya Fanya. 


"Lihat aja deh kak", jawab Anna. 


"Okey" 


  Dan disinilah mereka bertiga. Di sebuah festival yang dihadiri banyak orang. 


"Loh kok kesini?", tanya Fanya. 


  "Kita bakal habisin satu hari ini disini!" , seru Anna begitu bersemangat. 


"Hah iya?", tanya Fanya. 


"Iya, ayo!", ajak Saga. 


  Dan dari sinilah Fanya belajar bahwa, setiap permasalahan pasti ada jalan keluarnya. 


  Sama halnya seperti masa lalu. Ia terjebak dalam masa lalu yang kelam itu, tapi pada akhirnya ia hanya butuh bangkit dan melawan semuanya. Bukan malah pasrah, lari dan berlarut dalam kesedihan  terus menerus. 


  Bagi Fanya. Anna, dan Saga adalah takdir terbaik yang Tuhan titipkan  padanya. Bunda dan Ayah adalah pelengkap kebahagiannya. Dan kehidupannya adalah kisah yang akan menjadi sejarah untuk ia kenang nanti. 


  Semuanya akan berakhir happy ending. Karena sejatinya tak ada hujan yang terus-terusan turun. Ada kalanya hujan itu reda, bahkan berubah menjadi pelangi. 


  Oleh sebab itu, jangan terlalu memikirkan semua yang telah terjadi. Tapi rancang masa depan dan selalu berharap pada-Nya, hal terbaik dari yang baik. 


~~~


Finally~


Gimana? Serukan? Iya dong!!! 


Habis ini up story baru ygy~

Komentar

Posting Komentar