Who? (2)

Who? (2) 

"Di Balik Kejadian Mengerikan?"



From pinterest



  "S-Selly... S-sebenarnya a-aku s-suka sama k-k-kamu... ", ujar nya dengan nada bergetar sembari menyodorkan sebuket bunga mawar. 


  Lelaki itu menunduk, enggan menatap lawan bicaranya saat ini. Dengan segala macam do'a yang kini tengah ia rapalkan dengan penuh kesungguhan, berharap respon yang akan disampaikan sesuai dengan ekspektasinya saat ini. 


  "Ha..." . Terdengar suara helaan nafas dari depan sana, membuat lelaki itu semakin bergetar hebat. Bahkan keringat dingin sudah membanjiri tubuhnya. 


  "Aku juga suka sama kamu..." , ujar gadis itu menggantungkan kalimatnya sembari  mengibaskan surai coklat pekat miliknya kebelakang. 


"Arkan" , lanjutnya. 


  Arkan mulai mengangkat kepalanya. Tersirat secercah harapan dari sorot matanya. Mata bahagia yang kini tengah tersenyum. 


"Lo... Mau gue ngomong gitu kan?" 


  Namun pertanyaan itu membuat dunianya seketika runtuh begitu saja. 


Arkan kembali menunduk. 


Duk 


Duk 


  Selly menoyor kepala Arkan, membuat lelaki itu semakin menunduk dalam. 


"Dasar ga tau diri", ujarnya. 


Brak 


  Selly mendorong tubuh Arkan dengan kasar. Membuat Arkan yang tak dapat menyeimbangkan tubuhnya menjadi terjatuh ke belakang. 


"Gue jijik sama lo" 


  Lalu Selly meninggalkan Arkan begitu saja. 


  Sepeninggal Selly, Arkan menangis. Mengeluarkan air mata yang sedari tadi ia tahan. 


"Arkan~" 


  "Siapa itu!?", tanya Arkan terkejut. Tubuhnya seketika menegang. Kepalanya menoleh kesana kemari mencari sumber suara. 


  Dia tertawa mengerikan, "Kamu, gabisa lihat aku~ Tapi aku bakal bantu kamu Arkan~" 


  Arkan semakin merinding, "Enggak!!! Enggak perlu! Pergi kamu!" , teriak Arkan memberanikan diri. 


"Kok gitu~? Kamu ga mau aku bantuin?


"Ngg--" 


"Kamu mau terus-terusan ditindas Arkan? Aku bantuin kamu loh~" 


"Ak--" 


"Kesempatan cuma datang sekali Arkan~" 


  Arkan terdiam. Bagaimanapun, selama ini ia sudah terlalu sering ditindas. Baik lelaki maupun perempuan. Baik kakak kelas maupun teman seangkatannya. 


Ia... Harus bangkit! 


"Oke! Aku mau!", jawabnya mantap. 


"Oke~" 


"Akh" 


  Arkan merasakan ada sesuatu yang masuk kedalam tubuhnya. Ia berusaha menyeimbangkan dirinya. 


  Kepalanya mendadak pening. Ia kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya, menepis rasa pening itu. 


  Namun... Arkan telah berubah. Matanya yang semula coklat berganti menjadi hitam pekat. Mata yang awalnya rabun seketika menjadi jelas. Pakaiannya yang awalnya begitu rapi kini sudah mulai berantakan. 


  Arkan menarik dasi nya sedikit ke bawah, lalu membuka dua kancing bagian atasnya. Lelaki itu kemudian melempar kacamata tebal yang selama ini ia kenakan ke arah tumpukan kardus dibelakang. Rambut yang awalnya begitu rapi kini ia acak. 


Berandal 


Itu gambaran Arkan sekarang. 


  Arkan melangkah, melalui koridor sepi yang terdapat sebuket bunga mawar yang baru saja di buang Selly. Arkan berjalan, menuju gudang. 


<> 


  Sudah satu bulan setelah perubahan Arkan. Lelaki itu nyaris dikeluarkan dari sekolah. Namun, seperti diriku yang selalu masuk peringkat tiga besar satu sekolah. Arkan pun begitu. 


  Arkan sering bolos. Namun tak pernah ada yang tau tempat nangkring lelaki itu. Bahkan pihak sekolah sudah angkat tangan atas kelakuannya. 


  Dan sekarang. Arkan, lelaki itu tengah menatapku tajam. Kini posisinya sedang duduk diatas kursi guru yang telah usang. 


Tempat itu mengerikan. 


  Dengan sebatang rokok yang menempel dimulutnya. Ia bangkit lalu berjalan ke arahku. 


  "Wah wah wah, ada tamu", Arkan menyeringai. Menatap ku dengan tatapan mengerikan membuatku meneguk saliva susah payah. 


  Bukan karena aku takut padanya. Tapi aku takut pada sebuah benda. Ah bukan, maksudku orang yang sudah tergeletak bersimbah darah di belakang sana. 


  Kondisinya begitu mengenaskan, benar-benar sudah tak terbentuk lagi. 


"A-Arkan...", lirih ku. 


  "Kenapa hm?", tanyanya mulai berjalan mendekat dengan memegang sebuah bola yang berlendir. 


  "Cantik, kan?", tanyanya menyodorkan barang itu padaku. 


  Aku menelan saliva susah payah. Keringat dingin sudah mengucur di dahiku. "L-lo--" 


  "Ah ga bagus ya?",tanyanya sedih namun tak begitu yang aku dengar. 


  "Yaudah deh, buang aja", ujarnya. Lalu ia melempar bola itu ke bawah dan menginjak nya kuat, membuat beberapa percikan lendir dan juga darah. 


Itu bola mata. 


  "Hm... Mata lo kayaknya lebih bagus deh, hehe", ia kemudian kembali mendekat dengan sebuah pisau silet yang sudah berlumuran darah. 


  Aku mundur, merasa lebih was-was sekarang. Udara sekitar terasa menipis, jantungku terasa mau copot, kakiku terasa kaku. Namun tetap ku gerakkan kakiku menghindarinya. 


  "Mau langsung atau pake proses?", lirihnya namun mengerikan. 


"J-jangan m-mendekat", ucapku terbata-bata. 


Namun sialnya aku sudah terpojok. 


  Aku ingin berteriak namun perkataan Arkan membuatku mengurungkan niatku , "Lo mau teriak? Percuma, ga bakal ada yang denger" , ujarnya terkekeh menyeramkan. 


"A-Arkan... Pliss... Sadar... Lo itu sa-" 


  "Diam!", Arkan meninju dinding samping kepalaku. 


  "Lo terlalu cerewet, harus kah gue buat lo diem?", tanyanya jengah. 


  Ia menggerakkan pisaunya di depan wajahku. Namun, dengan cepat aku menghindar. Beberapa kali ku lakukan itu hingga membuat Arkan murka. 


"Lo bisa diem ga sih!?", bentaknya. 


  Kemudian lelaki itu meletakkan telapak tangannya pada leherku dan menggenggamnya. Namun lama kelamaan genggaman itu terasa semakin kencang. 


  Perlahan-lahan tubuhku terangkat. Aku memukul pergelangan tangan Arka. Sebab, aku merasa akan mati sekarang juga. Paru-paru ku butuh oksigen! 


"A-Arkan!!!" 


  Arkan tak mengindahkan perkataanku, ia terus saja mengencangkan cekikan pada leherku. 


"Arkan... P-plis lo k-kenapa!?" 


  Tak dapat jawaban dari Arkan, aku kembali bersuara. 


  "A-Arkan! L-lo p-pembunuh!!! L-lo mau b-bunuh g-gue!?" 


Aku masih memukul lengannya. 


  "A-Arkan!!! P-plis s-sadar!!! I-ini b-b-bukan Arkan yang gue k-kenal! Arkan! I-ini gue R-Rizka!!!" 


  Genggaman tangan Arkan seketika melemah. Dan beriringan dengan itu tubuh Arkan ambruk. Ia pingsan. 


"Arkan... ", lirih ku. 


  Setelah genggaman tangan itu terlepas, aku segera menghirup udara dengan rakus. Namun setelah itu, pandanganku seketika menjadi buram. Kepalaku terasa berat, dan kakiku terasa lemas. 


Dan aku... Juga ikutan ambruk disamping Arkan. 


<> 


  Aku membuka mataku perlahan. Lalu mengerjapkan nya beberapa kali.Menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kedua netraku. Bau obat-obatan terasa mulai menusuk indera penciuman ku. 


  "Rizka, kamu udah sadar nak!?", tanya wanita paruh baya itu panik. 


Aku hanya menatapnya lemah. 


"Ibu..." 


  "Iya sayang, ini ibu. Kamu gapapa kan?", tanyanya lagi. 


  Aku mengangguk samar. Membuat ibu mengehela nafas lega. 


  Namun sepersekian detik kemudian aku membelalakkan mataku. Lalu ku tatap mata ibuku dengan panik. 


"Arkan... Arkan gimana!?" , tanyaku ketakutan. 


"Arkan?", tanya Ibu nampak berpikir. 


"Jadi... Namanya Arkan?", gumam ibu. 


  "Dia udah dikantor polisi sayang. Kamu tenang aja", ujar Ibu begitu tenang. 


"Eng-enggak!" 


"S-sayang kenap--" 


"Bu kita ke kantor polisi sekarang!" 


<> 


  Awalnya Ibu menolak tegas. Namun setelah aku menjelaskan, dan sudah dapat persetujuan dokter. Akhirnya mereka berdua pergi ke kantor polisi sesuai permintaanku. Tapi masih dengan diriku yang menggunakan slang infus dan kursi roda. 


  "Arkan... " , lirih ku lemah. Sementara Arkan, lelaki itu hanya menunduk merasa bersalah. 


"Maaf... ", ujarnya lirih. 


Terdengar isakan kecil disana. 


  "Ak-aku beneran ga tau kenapa aku bisa kaya gitu hiks... Kamu boleh hukum aku Rizka! Kamu boleh pukul aku bahkan bunuh aku hiks... ", ujarnya putus asa. 


  Aku menatap iba ke arah Arkan. "Gapapa Arkan, gue ngerti". Aku menatap dalam kedua netra Arkan. 


  Arkan adalah orang tertindas yang pernah ku tolong. Akibat itu, ia selalu mendekatiku. Awalnya aku merasa risih, namun pada akhirnya kita menjadi teman dekat juga. Oleh sebab itu, saat di gudang waktu itu ia merasa lemah saat aku menyebutkan namaku sendiri padanya. 


  "Arkan, gue bakal bantu lo keluar dari sini" , ujarku yakin. 


  Arkan menggeleng. "Enggak Rizka. Aku memang salah" 


  "Lo jangan gini dong! Lo udah tau kalau lo ngelakuin itu diluar kesadaran lo. Lo... Tau sendiri kan, apa yang sebenarnya terjadi?" 


  Arkan mengangguk. "S-sebenarnya setelah aku nyatain perasaan aku ke Selly, aku denger suara perempuan gitu. Itu menakutkan. Katanya mau bantu aku. Jadi aku iyain, tapi habis itu aku ga inget apa-apa lagi", ujarnya menjelaskan. 


  Aku menutup mulutku syok. Jadi... Hantu itu beneran ada? 


<> 


Brak 


  Pintu gudang ku tendang kuat. Dengan emosi yang sudah diujung tanduk, aku berteriak. 


"Keluar lo! Sialan!" 


"Ha~", suara itu membuatku jengah. 


  "Jangan banyak basa basi lo! Keluar aja apa susah nya sih!?" 


  Suara itu terkekeh "Oke~" , jawabnya mengerikan. Namun itu bukanlah hal yang bisa membuatku takut. 


  Setelah itu, terlihatlah wujud seorang gadis dengan surai rambut hitam legam nan panjang hingga menutupi wajahnya, baju sekolah dengan bercak darah di mana-mana dan kaki serta lengan yang terdapat banyak irisan luka. 


  "Kenapa~ kamu cari aku~?", tanyanya memiringkan kepala sedikit. 


  "Jangan ganggu warga sekolah ini lagi!", tegas ku yang malah membuatnya terkekeh. 


  Ia berjalan mendekat ke arahku dengan tertatih-tatih. 


  "Kamu tau ga~ aku ini siapa?", tanya. Kemudian dia menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajahnya. 


Dan itu membuat aku syok setengah mati. 


  "Lihat~? Mereka lakuin ini ke aku", ujarnya berusaha tenang. 


  "Lo... Karin angkatan dua tujuh yang bunuh diri tahun kemaren itu?", tanya ku. 


  Karin mengangguk. "Tapi, aku bukan bunuh diri. Aku dibunuh! Aku dibunuh, Rizka...", jawab Karin. 


  Aku tidak terkejut saat ia mengetahui namaku. Toh, dia juga sudah tau saat menggunakan Arkan untuk mencekikku. 


"Ya, terus? Gue harus apa?", tanya ku tak peduli. 


  Kulihat wajah hancur Karin seperti menahan amarah. Namun sepersekian detik setelahnya, wajah itu berubah menjadi wajah kesedihan. 


  "Tolong ungkap kematian ku Rizka~, tolong kubur aku dengan layak~" , lirihnya begitu menyakitkan. 


"Emang apa urusannya sama gue?" 


  Dengan mata yang tinggal sebelah itu ia menatapku penuh permohonan. "Aku mohon~... Setelah ini aku berjanji tidak akan mengganggu kalian lagi" 


"Hah... ", aku menghela nafas. 


"Oke, tapi lo harus bantu gue" , finalku. 


  Dan dia mengangguk dengan senyuman yang sangat amat lebar. 


~~~ 


Bersambung lagi~


Aduh pas ngetik rada ngeri juga. Hiks... Tapi kasian juga sama Arkan dan Karin. 


Mungkin kalian bakal nanya, "Halah nanggung satu chapter lagi, kenapa ga langsung aja sih? 

Jawabannya :

Karena ceritanya panjang. Jadi aku prediksi kalian bakal bosan. Trus ceritaku kurang menarik, maybe? Dan yah, alasan lain karena aku pengen kalian penasaran~

Hehe^^


So, mohon tunggu ya~

Tinggal satu chapter lagi kok~

Komentar

Posting Komentar