Who? (3)
Who? (3)
"Mengungkap Teka-Teki Kematian Karin"
From pinterest
Setelah perjanjian itu. Aku harus selalu bertemu dengan Karin. Ia selalu menggangguku. Tapi terkadang juga membantuku.
"Woi, kerjain tugas gue nih", suruh Galih sembari melempar buku tulisnya padaku.
"Ogah", tolak ku mentah-mentah.
"Oh berani lo sama gue!?", tanyanya garang, berancang-ancang ingin memukul ku.
"Hei~"
Galih menggosok telinganya. "Siapa!?", tanyanya terkejut dan ketakutan. Sementara aku hanya melirik nya tanpa minat.
"Jangan ganggu~", lirihnya menakutkan tepat ditelinga Galih.
Galih segera pergi dari bangku ku. Dengan perasaan takut serta syok. Terpancar dari raut wajahnya yang begitu kentara.
Sedangkan aku hanya menghela nafas berat.
"Jangan kayak gitu, lo bikin dia takut", ujarku sembari memijat pelipis sebab merasa pening.
"Cih, biarin aja. Salah nya sendiri gangguin orang~"
Setelah mengatakan itu, kami kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing.
"Gue udah minta bantuan hacker buat cari rekaman pas lo dibunuh. Nanti gue mau ketemu dia, lo mau ikut?", tanyaku memecah keheningan.
Karin mengangguk antusias. "Mau~!", ujarnya semangat.
"Uangnya?", tanyaku.
"Oh itu mah gampang. Ntar ambil di rumah ku aja~", jawabnya enteng.
Aku hanya berdehem singkat lalu kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda.
<>
"Ini rumah lo?"
Karin mengangguk antusias. Aku kemudian mengedarkan pandanganku. Rumah yang megah dengan pagar yang menjulang tinggi.
"Lo orang kaya, kok mau aja sih ditindas?", tanyaku heran.
"Ih, aku kan penakut~", lirihnya.
Aku memutar bola mataku jengah. Penakut tapi kok psycho? Mana dia ngebunuh keji banget lagi.
"Cari siapa neng?"
Suara itu mengagetkan aku serta Karin. Eh Karin... Kaget?
"Eh pak, saya ada perlu sama yang di dalem. Boleh masuk ga pak?" , tanyaku kik kuk.
"Neng ada janji?", tanya satpam itu.
"Aduh, engga ada nih pak. Tapi ini mendesak banget", ujarku memelas dengan nada tak sabaran.
"Aduh, gimana ya neng, ga boleh neng", ujar satpam itu tak enak.
"Duh pak, saya butuh banget. Boleh ya, ya ya"
"Duh neng--"
Tit
Tit
Bunyi klakson sepeda motor mengalihkan atensi semua orang yang berada disana. Tak terkecuali Karin.
"Ada apa ini ribut-ribut?" , tanya seorang pemuda yang baru saja membuka kaca helm full face yang ia kenakan.
"Abang... ", panggil Karin lirih dengan tatapan sendu.
Aku melirik ke arah Karin sebentar, lalu kembali menatap pemuda itu.
"Saya ada perlu dengan orang tua anda, apa boleh saya masuk?", tanya ku.
Pemuda itu menatap ku penuh selidik. Namun, sepersekian detik kemudian, akhirnya ia mengizinkan aku untuk masuk kedalam rumah nya.
"Masuk", ujarnya.
Aku mengangguk kemudian mengiringinya dari belakang.
Setelah selesai memarkirkan motor sport nya, pemuda itu turun. Namun setelah itu ia terkejut.
"Weh! Heh ngapain ikutin gue, lo!?", tanya nya galak.
"Oh itu, hehe... Ga tau" , jawabku asal.
"Hadeh, masuk gih katanya ada perlu sama orang tua gue"
Aku mengangguk lalu berlalu meninggalkan nya.
<>
"Jadi kedatangan saya kesini atas permintaan anak om. Karina Cahaya Lestari"
Pria yang kini tengah berhadapan denganku itu terlihat terkejut.
"Kamu... Gimana bisa?" , tanyanya syok.
"Karin ga tenang om, dia bahkan sering neror satu sekolah", jelas ku.
"Heh, mana ada gitu~", aku hanya melirik sekilas Karin yang sepertinya tengah kesal padaku. Toh, aku kan cuma mengatakan yang sebenarnya.
Pria itu menatapku penuh selidik. Sedangkan aku hanya menghela nafas berat. Berbicara dengan orang tua konglomerat memang sesulit ini.
"Saya akan kirimkan bukti jika saya sudah bertemu dengan hackernya nanti" , finalku.
"Apa saya bisa percaya sama kamu?", tanyanya ragu.
"Iya bisa, malam ini, saya akan kembali lagi kesini"
"Baiklah kalau begitu, berapa uang yang kamu butuhkan?"
<>
"Sebenarnya ga perlu sebanyak ini, tapi kok bapak lo malah ngasih lima kali lipat sih!?", aku kesal lantaran uang yang diberikan pria tadi jauh dari dugaanku.
Aku hanya minta uang sebesar Rp. 100.000.000, ia malah memberiku uang sebesar Rp. 500.000.000
"Hehehe, berarti papa percaya sama kamu~", ujarnya cengengesan.
Aku hanya menghela nafas lelah. Untung ini lewat rekening. Kalau cash? Entah bagaimana ceritanya.
"Lo nanti tenang. Jangan ganggu, kalau lo ganggu, gue tendang lo ke gudang" . Aku melirik sekilas ke arahnya.
"Iya, iya aku bakal diam aja kok. Janji deh~"
Sesampainya di sebuah cafe, kami turun dari taksi. Lalu aku memasuki cafe, dan mengedarkan pandangan ke sekeliling cafe.
Terlihat seorang lelaki dengan hoodie dan topi bewarna hitam di pojok cafe. Aku pun berjalan menghampiri nya.
"Zoi?", tanyaku. Dan dia berdehem.
Lalu aku duduk di bangku yang berhadapan dengannya.
Tanpa basa basi, ia menyodorkan sebuah flashdisk. "Semua informasi yang lo butuhin ada disana. Kalau udah ga ada apa-apa lagi, gue duluan" , pamitnya.
"Okey, uangnya udah gue transfer. Makasih"
Ia hanya berdehem, lalu pergi meninggalkanku begitu saja.
"Yok", ajakku pada Karin.
"Ini minumnya gimana? Sayang kalau dibuang~" , ujar Karin menatap iba segelas boba yang belum disentuh olehku sama sekali.
"Mbak!", panggil ku.
"Iya kak?"
"Tolong bungkus minuman itu ya" , ujarku sembari melirik segelas boba yang berada di atas meja.
"Baik kak, tunggu sebentar ya"
Aku hanya berdehem lalu kembali duduk. Menunggu boba yang sedang dibungkus itu.
"Ini kak"
"Makasih", ujarku lalu pergi meninggalkan cafe.
"Riz~, aku boleh minta boba nya dikit ga~?", tanya Karin.
"Gak"
"Loh kok gitu? Pelit banget sih~", ujarnya cemberut.
"Lo itu hantu woi, mana bisa minum kayak beginian, ntar dimana dicerna coba", tanyaku tak habis pikir.
"Oh iya, hehe~", ujarnya sembari menyengir.
<>
Suasana rumah megah itu begitu sunyi. Meski sudah empat orang plus satu hantu, tetap saja mereka saling terdiam satu sama lain.
Bukan karena larut dalam pikiran masing-masing, tapi karena memperhatikan diriku yang sedari tadi sibuk dengan laptop milik salah seorang dari mereka.
"Ini", ujarku sembari memutar laptop itu menghadap mereka semua.
Dengan kompak, mereka menonton siaran itu.
Terlihat disana seorang gadis tengah dibully, namun pembullyan ini sudah terlihat diluar batas.
Bukan lima banding satu. Tapi satu banding satu.
Karin dengan... Entah lah? Gadis dengan surai merah sepanggul yang tengah menyiksa Karin.
Disana, Karin awalnya diam saja. Tapi saat gadis berambut merah itu ingin menggunting rambut milik Karin. Karin memberontak, yang mengakibatkan gadis berambut merah tersebut menjadi murka.
Dengan brutal ia menghancurkan wajah Karin. Mulai dari mulut yang ia gunting hinga mencongkel sebelah mata Karin.
Membuat syok orang yang berada disana. Tak terkecuali diriku yang tak sanggup melihat dan mendengar rintihan Karin.
Aku benci ini, tapi tatapan iba ku kini tertuju padanya. Hantu itu kini seperti manusia. Tengah menunduk dalam, seperti tak ingin mendengar semua itu lagi. Seperti hal itu adalah trauma terbesar baginya. Seperti ia sudah lelah dengan semua ini, ia ingin menyerah.
Karin mengangkat kepalanya. Sebelah matanya yang tidak tertutupi surai hitam itu membalas tatapan ku dengan tatapan hancur. Keputusasaan yang Karin derita terasa begitu menusuk hatiku. Membuat keinginan yang hanya semata-mata menolong Arkan jadi benar-benar ingin menolong sosok Karin.
Sudah terlalu banyak ia tersakiti. Dunia begitu kejam terhadapnya. Bahkan ia masih harus bergentayangan sebab raganya yang dibiarkan begitu saja.
"Karin... ", lirih wanita paruh baya itu.
"Hiks... Kasihan banget Karin pa... Hiks... Mama ga kuat... ", wanita itu terjatuh dalam pelukan pemuda yang tadi aku temui.
"Ma... Mama!" , panggil pemuda itu seraya menggosok pipi wanita yang kuduga adalah mama Karin.
"Zidane, bawa Mama ke kamar!", suruh pria itu, papa Karin.
"Baik pa". Zidane menggendong mamanya ala bridal style. Lalu menaiki tangga dan menghilang.
"Ekhem... Terimakasih atas usaha anda membantu memecahkan misteri kematian anak saya. Selebihnya biar saya yang kerjakan", ujar papa Karin.
"Kamu mau apa dari saya sebagai imbalannya?", lanjutnya.
Aku sedikit terkejut. Namun setelah itu ku lirik Karin yang kemudian membalas tatapanku. Lalu ia menganggukkan kepalanya.
"Saya ingin... Arkan dikeluarkan dari penjara dan pindahkan Zidane kembali ke SMA Sastra", ujarku mantap. Kulihat Karin samar-samar tersenyum.
Pria itu nampak terkejut, "Tapi kenapa--".
"Ini bukan permintaan saya, tapi permintaan Karin"
Pria itu menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu bercanda?" , tanyanya tak percaya.
"Tidak, ini benar-benar nyata. Karin disini. Berada di samping saya saat ini", ujarku meyakinkan.
"Jangan bercanda kamu", ujarnya masih tak percaya.
"Terserah anda saja, itu juga bukan urusan saya"
"Karin... ", suara melengking itu memenuhi ruangan.
"Ma!", diiringi dengan teriakan Zidane.
Wanita itu dengan cepat menghampiri ku. Lalu ia bertanya, "Karin... Mana?"
Aku meneguk salivaku. Tatapan nya yang begitu putus asa. Sama dengan tatapan yang Karin lemparkan pada ku tadi.
Aku menoleh ke arah Karin. Namun Karin sangat fokus memperhatikan wanita itu.
"Karin... ", lirih ku membuyarkan lamunannya.
"Mama... " , lirihnya.
Aku menghela nafas. Lalu aku bicara pada Karin di depan seluruh keluarganya.
"Lo boleh masuk ke tubuh gue. Tapi jangan keenakan. Cepet aja. Jangan banyak omong lo" , ujarku membuat mereka semua mengernyit bingung.
Karin tersenyum. Kini senyum manis yang kurang menakutkan. "Makasih, aku ga bakal lama-lama kok" , ujarnya.
Aku berdehem. Lalu Karin mendekat dan masuk kedalam tubuhku.
"Mama... Papa... Ini Karin... ", ucap Karin.
Semua nya terkejut. Tapi tidak dengan wanita yang Karin sebut mama.
"Hiks... Karin... ", dengan segera mama Karin memeluk Karin dan mengecupi kening Karin lama.
"I-ini beneran Karin!?", tanya papa Karin tak percaya.
Karin mengangguk. "Iya pa, ini Karin"
Tanpa banyak bicara, papa Karin memeluk Karin disusul mamanya. "Abang, ga mau peluk Karin?", tanya Karin melihat Zidane yang malah membuang muka darinya.
Namun tak lama setelah itu, isakan kecil keluar dari mulut Zidane. "Abang nangis? Haha, lucu banget", kekeh Karin.
Kini pelukan kedua orang tuanya terlepas. Karin bangkit dan berjalan mendekati Zidane. Karin membungkuk, memeluk tubuh tegap pemuda itu.
Seketika pertahanan Zidane runtuh. Tangis yang ia tahan sedari tadi, pecah saat itu juga. Jujur, ia sangat merindukan sosok Karin. Sosok yang selalu manja padanya. Adik kecil yang akan selalu Zidane sayangi sampai kapanpun. Baik ia masih bisa Zidane lihat maupun tidak.
Setelah merasa Zidane sudah cukup tenang, Karin melepas pelukannya perlahan. Ia kemudian menghapus jejak air mata Zidane. "Ih abang jangan gini ih. Kan jadi jelek banget, ga like Karin tuh", ujar Karin cemberut. Yang membuat Zidane terkekeh gemas.
"Ma, Pa, Bang. Nanti kalau jasad Karin udah ketemu, berarti Karin udah tenang. Papa sama Mama jangan lupa selalu do'ain Karin ya. Abang juga"
Ketiga nya mengangguk.
"Yaudah Karin balikin lagi tubuh ini ke Rizka dulu ya!!! Dadah semua! Karin sayang sama kalian!", ucap Karin.
Lalu saat itu juga, tubuhku terjatuh ke lantai. Dengan segera Zidane menggendong tubuhku ala bridal style menuju kamar Karin.
Setelah kejadian malam itu, Zidane benar-benar pindah ke sekolah ku. Arkan yang sudah dibebaskan. Kasus Karin juga sudah terungkap. Serta jasad Karin juga sudah di kubur dengan layak. Dan kehidupan sekolah kembali berjalan dengan normal.
<>
Aku sedang menatap senja kala itu. Tepat di balkon rumahku. Ku biarkan rambutku tergerai. Membuat helaiannya tertiup angin sepoi-sepoi.
Tiba-tiba, benda pipih yang ku letakkan di saku celana oversize ku bergetar. Menandakan ada pesan yang masuk.
Dengan segera, aku mengambil ponselku. Lalu membaca pesan yang berasal dari Zidane.
Zidane
*vidio
Investigasi pembunuh Karin.
Kata papa makasih, beliau juga titip salam.
Aku kemudian menonton vidio itu. Yang menampilkan seorang gadis berambut coklat terang. Dengan wajah yang menyedihkan, dia mulai menceritakan kronologi kematian Karin.
"Perkenalkan, saya Negara Argania. Saya kelas dua belas. Dan kini tengah bersekolah di SMA Cakrawala."
Aku terus mendengarkan apa yang disampaikannya dengan penuh keseriusan.
"Saat itu Karin membentak saya, dan membuat amarah saya meluap. Saya benar-benar hilang kendali saat itu.
Saya menggunakan gunting merah itu untuk membunuh Karin. Karena saya sangat terobsesi dengan warna merah, saya melanjutkan aksi gila itu.
Saya melakukan itu karena saat itu saya merasa iri pada Karin. Karin memiliki segalanya. Kasih sayang, harta, keluarga yang lengkap, kecantikan dan ia juga sangat pintar.
Sedangkan saya. Hanya sebatas fisik dan harta. Namun, selebihnya tak pernah saya dapat kan. ", jelasnya sendu.
"Saya... Benar-benar minta maaf yang sebesar-besarnya pada pihak keluarga", lanjutnya merasa sangat bersalah.
Dan vidio itu berakhir. Aku menatap sendu ke arah layar ponselku.
Aku menyimpan ponselku kembali. Lalu beralih pada matahari yang sudah mulai terbenam di ufuk barat.
Tiba-tiba, pikiranku mengarah pada Karin. Bagaimana... Kabarnya sekarang? Apa dia bahagia?
Lalu samar-samar ku dengar.
"Makasih, Rizka~"
Dan aku tersenyum
~~~
Finalyy~
Akhirnya selesai juga yuhuuuu
Gimana? Seru ga? Seru ga? Seru lah masa engga!
Nantikan short story selanjutnya ya-!!!
Papay~

ketika pembaca wattpad buat cerita be like
BalasHapusHehe
Hapus