Love Yourself (1)

Love Yourself (1) 

"Tak selamanya kamu sendiri"

From pinterest


  Di pagi hari yang cerah itu, burung-burung saling berkicauan bagai nada yang mengalun begitu indah. Cahaya mentari tersenyum menatap alam semesta dengan ramah.  Dan angin yang sedang berhembus menyapu alam semesta dengan gesekan halus yang begitu damai. 


  Sebagian anak mungkin akan tersenyum cerah bagai mentari, wajah yang begitu berseri, dan mata sipit bagai rembulan yang dapat menyenangkan hati. Namun, itu semua tak berlaku bagiku. 


  Pagi ini, aku berjalan melewati koridor sekolah. Seluruh pasang mata tertuju padaku, membuat ku selalu setia menundukkan kepala. 


  Tatapan yang mereka berikan, bukanlah tatapan memuja. Tetapi, tatapan tak suka dan jijik padaku. 


  Aku terus berjalan, melewati mereka semua. Desas desus tak mengenakkan mereka lontarkan padaku. Namun, aku hanya bisa diam dan tak bisa melawan. 


  Sesampainya di depan kelas, aku menghembuskan nafasku pelan. Bersiap-siap untuk kejutan yang biasa 'teman-teman' ku berikan padaku setiap pagi. 


  "Wah ada siapa nih? Pagi Divya~", sapa seorang gadis dengan rambut pirang sepinggang yang dicat blonde ke arahku. 


  Aku hanya dapat menunduk, enggan menatap lawan bicara ku saat ini. Aku kemudian bergeser jalur, hendak melewatinya begitu saja. Namun, sepertinya gadis itu tak mau melepaskan ku. 


  "Eyyy, kalau disapa tu dijawab dong. Ga sopan tau", ujarnya dengan nada lembut. 


  Aku terus-terusan menunduk, lalu ku pindah jalur ketempat ku semula. Namun, ia malah ikutan berpindah. 


  "Lo... Tuli ya?", tanya nya sedikit menunduk, menyamakan tingginya denganku. 


  Aku masih setia menunduk. Mataku sudah berkaca-kaca. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Tanganku bergetar, kaki ku terasa kaku. 


  "A-aku m-mau ke b-bangku ku... B-boleh kasih j-jalan ng-ngga?", tanyaku terbata-bata. 


  Dia tersenyum manis. "Oh boleh", ujarnya lalu menggeser posisinya, memberikan jalan padaku. 


"M-makasih" 


  Aku berjalan melewatinya, namun, baru saja berjalan dia langkah. Tubuhku tak sengaja menabrak tubuhnya membuat gadis itu terjatuh lalu memekik. 


"Akh!" 


  "Carla!", pekik salah satu temannya, dia bernama Yura dengan rambut berwarna ungu sebahu. 


  Dia berlari ke arah Carla, lalu mengangkat tubuh gadis itu perlahan. 


  "Gila lo! Udah dikasih jalan selebar ini, masih aja nabrak orang! Makannya badan lo kecilin napa", makinya padaku. 


  Aku hanya mampu menunduk. Tubuhku yang terkesan gemuk dan style ku yang nerd memang selalu mengganggu. Membuatku merasa tak percaya diri dan selalu merasa terkucil kan. 


"M-maaf", cicit ku. 


  Yura mendekat, lalu mendorongku dengan jari telunjuknya. "Dasar ga tau diri", ujarnya. 


  Lalu... Kegiatan rutin pagi itu kembali terjadi lagi. 


 Seluruh warga kelas mengerubungiku, lalu melayangkan ejekan padaku. 


"Hei kalian!" 


  Hingga suara itu menghentikan aktivitas mereka. Semuanya kompak menoleh ke sumber suara. Termasuk aku. 


  Lelaki itu berjalan ke arah kami. Ia berjalan dengan tangan yang dimasukkan kedalam kantung celana dan tatapan mengintimidasi yang ia miliki. 


"Bubar", ujarnya dingin. 


  Semuanya bubar, meninggalkan aku, dia, Carla, dan Yura yang berada di belakang. 


  "Ck, ga seru lo, Ryan", ujar Yura kemudian membawa Carla ke arah bangkunya. 


  Sepeninggal mereka berdua, Ryan mengulurkan tangannya padaku yang masih setia menunduk menahan tangis. 


"Bangun", ujarnya. 


  Aku mendongak, menatap netra dingin milik Ryan. Lalu aku meraih tangannya, dan bangkit. 


"Lo gapapa? Ada yang sakit ga?", tanyanya. 


  Aku sedikit terkejut dengan pertanyaan yang ia lontarkan. "E-engga kok, a-aku gapapa", jawabku. 


<>


  Bel pertanda istirahat berbunyi, seluruh warga sekolah berloma-lomba menuju kantin untuk mengisi perut mereka yang sudah mendemo sejak tadi. 


  Setelah mengantri cukup lama, akhirnya aku mendapatkan makanan yang aku inginkan. Bakso dengan tingkat kepedasan yang tinggi serta soda dingin. 


  Aku berjalan kemudian menemukan salah satu meja yang kosong. Aku meletakkan nampan ku. Lalu aku mulai menyantap makananku. 


 Baru satu suap yang mendarat di mulutku, segerombolan perempuan, datang menghampiriku dengan nampannya masing-masing. 


  "Kami boleh duduk disini kan?", tanya Carla. Aku hanya mengangguk mengiyakan. 


  Carla tersenyum, lalu duduk dihadapanku disusul teman-temannya. 


  Setelah jeda yang lama diantara kami, Yura membuka suara. 


  "Wah, Dipa, lo ga ada niatan gitu buat diet?" tanya nya. 


  Fany, gadis yang disamping Yora menyahut. "Haha, Divya Yura, bukan Dipa", ujarnya remeh. 


 "Eh iya, maap, nama lo ga bagus, makannya gue ganti", ujarnya. Lalu mereka tertawa bersama. 


  Sedangkan aku, mengenggam erat sendok serta garpu ku. Berusaha menahan tangis dan amarah dalam waktu yang bersamaan. 


Ciit 


 Suara decitan kursi terdengar, membuat kami semua sontak melihat ke sumber suara. 


  Ryan duduk di kursi sampingku. Lalu menatap ku, " Kenapa? " , tanya nya. 


  Aku mengalihkan pandangan kemudian menggeleng. Sedangkan Ryan, lelaki itu meletakkan sebuah piring kecil berisi puding coklat di hadapanku. 


"Buat lo" 


Membuatku kembali menoleh. 


  Sedangkan mereka, tercengang dengan perlakuan Ryan terhadap ku. 


"Woi, lo kesambet apaan?", tanya Yura. 


  Sementara Ryan, lelaki itu tak mendengarkan perkataan Yura, dan melanjutkan acara makannya yang tertunda. 


<>


  Keesokan paginya, aku kembali melewati koridor sekolah yang ramai. Desas desus tak mengenakkan kembali terdengar. Bahkan Ryan pun ikut terbawa. 


  Aku menutup mataku, berusaha menulikan telinga dari seluruh makian dan hinaan itu. Hingga sebuah tangan terasa menutupi area telingaku. Menyumbat seluruh suara yang akan segera masuk. 


  Aku terkejut. Kemudian menoleh ke arah belakang. Namun, dihentikan oleh kekuatan tangan orang itu. 


  "Jangan dengerin kata orang, terus aja jalan, angkat kepala lo", bisiknya. 


  Seketika bulu kuduk ku merinding. "R-Ryan... ", lirihku. 


  Ryan mengubah posisinya, menjadi disampingku. Ia menampilkan senyuman manisnya, "Pagi", ujarnya. 


  Kami berjalan beriringan menuju kelas. Sesampainya di bangku ku, Ryan menunduk, lalu menatapku. 


  "Nanti pulang bareng ya, gue tunggu di gerbang", ujarnya. 


<>


  Aku mengedarkan pandanganku mencari keberadaan Ryan. Namun, cowok itu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. 


"Udah lama nunggu?" 


  Sontak aku menoleh ke arah belakang. Ku lihat Ryan tengah tersenyum manis. Lalu lelaki itu berpindah ke sampingku. 


"Yuk", ajaknya. 


  Lalu kami berjalan meninggalkan area sekolah. 


"Mau ke cafe ga?", tanya nya. 


Aku mengangguk, "B-boleh" 


  Dan tibalah kami disini. Di sebuah cafe yang pengunjungnya tak begitu banyak. 


  "Lo mau pesen apa aja terserah, nanti gue yang bayarin", ujarnya. 


 Aku tersenyum, lalu memesan nasi goreng, mie goreng, sandwich, dan minuman dingin. Sedangkan Ryan hanya memesan kopi susu. 


Aku makan dengan lahap. Seperti biasa. 


  Sedangkan Ryan, masih setia menatap ku. Aku yang merasa risih pun, membalas tatapan Ryan. 


"Lucu", ujarnya sembari tersenyum. 


  Kedua pipiku terasa panas. Sudah ku pastikan wajahku kini memerah seperti kepiting rebus. 


  "A-apaan sih", ujarku mengalihkan pandangan. 


  Meski merasa sedikit aneh, aku tetap melanjutkan makanku. Bagaimanapun makanan tetap nomor satu. 


  Selesai menghabiskan makanan dan minuman kami, Ryan dan aku menuju meja kasir. 


"Berapa mbak?", tanya Ryan. 


  "Semuanya jadi Rp. 327.000 ya mas", jawab pelayan kasir tersebut. 


  Ryan merogoh sakunya. Namun ia tak kunjung mendapatkan apa yang ia cari. 


  Aku yang merasa ada yang tak beres, berinisiatif membayar pesanan kami. Bagaimanapun aku yang paling banyak memesan. 


  "Ini mbak" , ujarku sembari menyodorkan uang merah sebanyak empat lembar. 


  "Ini kembaliannya, makasih mbak"  , ujar pelayan kasir itu dengan ramah. 


  "Maaf ya, gue ga bisa traktirin lo hari ini, dompet gue kayaknya ketinggalan deh", ujar Ryan merasa tak enak. 


  "Iya, gapapa kok, makasih ya udah nemenin aku makan hari ini" 


Ryan mengangguk. "Sama-sama", ujarnya. 


<>


  Setelah melewati beberapa hari, hubunganku dengan Ryan semakin dekat. Bahkan aku mempunyai perasaan lebih padanya. Dan hari ini, aku berniat memberikan sekotak kue coklat yang ku buat tadi malam. 


"Semoga Ryan suka", monolog ku. 


  Aku memasuki kelas, disana ku lihat Ryan yang tengah bermain ponsel. Hanya saja, aneh nya, kemana siswa lain? 


  Tapi... Setelah dipikir-pikir, bukankah itu bagus? Aku bisa lebih leluasa menyatakan perasaanku pada Ryan dan mungkin Ryan juga menyukai ku balik? Memikirkannya saja membuat jantungku berdebar. 


"R-Ryan... ", panggil ku. 


  Ryan menoleh, lalu menaikkan sebelah alisnya, "Apa?", tanya nya. 


  Dengan kepala yang menunduk, serta mata yang tertutup rapat, ku sodorkan kotak yang telah ku hias sedemikian rupa itu pada Ryan. 


"Ryan... I-ini untuk kamu", gagap ku. 


  Ryan menerima kotak itu. "Makasih", ujarnya. Lalu mengamati kotak itu. 


"R-Ryan...", panggil ku lagi. 


"Hm?", tanya Ryan menatap ku. 


"S-sebenarnya aku s-suka s-sama kamu", ujarku. 


Ryan tersenyum "gue juga suka sama lo", balasnya. 



• Ga cukup lanjut part 2 •


Komentar

Posting Komentar