Love Yourself (2)

 Love Yourself (2) 

"Kamu hanya perlu memercayai dirimu sendiri"


From pinterest



"R-Ryan..." 


"Hm? " 


"S-sebenarnya aku s-suka s-sama kamu" 


"Gue juga suka sama lo" 


  Seketika aku menatap wajahnya dengan pandangan terkejut. 


  Ryan bangkit, lalu berdiri dihadapanku. "Itu yang mau lo dengarkan?" 


  Namun, rasa bahagia yang baru saja ku bangun seketika menjadi runtuh. Senyum yang Ryan layangkan, tampak berbeda. 


  "BWAHAHAHAHA!!! LIAT CUY, DIVYA NEMBAK RYAN" 


  Suara melengking itu memenuhi area kelas, disusul gelak tawa yang bersahutan. 


  Seluruh warga kelas keluar dari persembunyiannya. Membuat diriku menjadi bingung sekaligus terkejut. 


  Aku menoleh menatap Ryan kembali. Raut wajah Ryan kini menjadi raut wajah yang siap untuk menghujani ku berbagai cacian, begitu pula dengan yang lainnya. 


  Ryan menoel kepalaku kasar. "Denger ya, lo itu ga cocok bersanding sama gue", ujarnya. 


  "Bener tuh! Ryan cocok nya sama Carla ga sih? Cieee Ryan", goda Yura. 


  Dan hal yang paling tak terduga terjadi dalam hidupku. Vidio rekaman tersebar ke seluruh penjuru sekolah. Ryan yang menyatakan perasaannya pada Carla saat itu juga, dan diriku yang menjadi bahan bullyan satu sekolah. Membuat diriku benar-benar merasa hancur. Kini, aku benar-benar tak akan pernah bisa mempercayai siapapun lagi, aku sudah benar-benar mati rasa. 


  Aku mulai mengurung diri. Meratapi kebodohan dan menyalahkan diriku sendiri. 


  "Gila kamu Divya, mana ada yang suka sama kamu, mana dia kayak pangeran lagi. Harusnya kamu itu sadar, kamu cuma baru kerikil yang sering diinjak sama orang" 


  Dan saat aku bercermin, selalu aku perhatikan bentuk tubuh ku yang terbilang cukup besar. 


  "Ck, modelan apa kayak begini. Jelek, gendut pula lagi" 


  Selalu terlintas dalam pikiranku untuk mengakhiri semua ini. 


  "Mending aku mati aja ga sih? Apa gunanya hidup, kaya, tapi ga ada yang merhatiin" 


  Namun, aku tak berani melakukan itu semua. Nyaliku terlalu kecil. 


Hingga suatu malam, aku bermimpi. 


"I-ini dimana?" 


Tanyaku menatap sekeliling. 


"Divya" 


  Aku menoleh menatap seorang gadis yang menyerupai dirimu tengah berdiri di depan sana. 


"K-kamu--" 


"Aku Divya", potong nya. 


"Hah?", tanyaku tak mengerti. 


"Aku Divya, diri kamu", ujarnya lagi. 


"Maksudnya?", tanyaku tetap tak mengerti. 


  Dia tersenyum manis, lalu melangkah mendekat kearahku. Ia menatapku, lalu memelukku dengan erat. 


  Aku yang mendapat pelukan secara tiba-tiba pu  merasa terkejut. Sebelumnya, aku tak pernah mendapat pelukan hangat seperti ini. 


  Perlahan, air mataku mengalir tanpa ku minta. Dengan ragu-ragu, ku balas pelukan itu. 


"Kamu hebat Divya", lirihnya. 


  Aku hanya diam, menanti kalimat selanjutnya. 


"Makasih udah mau bertahan", lanjutnya. 


Ia melepas pelukannya. 


  "Kamu harus berubah Divya, tunjukin ke mereka semua, kalau kamu pantas disayangi. Kamu juga harus mencintai dirimu sendiri. Jadi apa yang kamu mau, bukan orang lain mau", ujarnya meyakinkan. 


  "Hah! Huh... ", aku terbangun. Mimpi yang barusan terjadi begitu nyata rasanya. 


  Aku kemudian bangkit, lalu berjalan menuju cermin besar milikku. 


  "Aku... Berubah?", tanyaku pada diriku sendiri. 


  "Oke, aku pasti bisa! Ayo tunjukin ke mereka Divya!" 


  Dan semenjak saat itu, aku mulai melakukan diet, olahraga rutin, serta mengonsumsi makanan sehat. Tak ada lagi soda, makanan berlemak maupun  minuman dingin. 


  Setelah melakukan itu kurang lebih satu bulan, aku kembali masuk kesekolah. Bukan untuk belajar, namun untuk mengucapkan selamat tinggal. 


  Baru saja aku melangkah menyusuri koridor sekolah. Desas desus pujian begitu kentara memasuki gendang telingaku. 


"Wow siapa dia!?" 

"Cantik bet weh!" 

"Gila, cug" 

"Ratu sekolah ini" 


Dan masih banyak lagi. 


  Memilih merasa bodo amat, aku kemudian memasuki ruangan kelas. Disana kulihat Carla, Yura, Fany, serta Ryan tengah mengobrol sambil tertawa. 


  Aku hanya menatap sekilas. Lalu menuju bangku ku. 


  Aku terkejut, saat melihat sekuntum bunga krisan berwarna putih terletak rapi diatas meja ku. 


  Aku menggenggam erat kursiku. Aku berusaha menahan amarah yang sebentar lagi akan meluap. 


  Aku mencoba bersabar, namun sebuah panggilan mengalihkan atensi ku. Itu, Carla. 


"Lo anak baru ya?", tanya nya. 


  Aku hanya diam, sembari menatap ke arah lain. 


  "Kenalin, gue Carla", ujarnya tersenyum manis sembari menyodorkan tangan kanannya. 


  Aku hanya diam. Tak lama, bel masuk berbunyi. Guru pun datang. Lalu meng absen masing-masing murid. 


  Aku mendengarkan dengan teliti, namun namaku tak disebutkan disana. Aku tersenyum miris. 


  Beliau kemudian menatap anak muridnya satu persatu, hingga netranya menangkap sosok ku yang berada di pojok kanan belakang. 


  "Loh? Kamu siapa? Anak baru?", tanya guru ku. 


Aku hanya diam. 


  "Loh? Kok bapak ga dapat info yah? Perkenalan dulu sini", ujarnya. 


  Aku bangkit, menuju ke arah depan. Seluruh pasang netra menatap kagum ke arah ku. 


  "Nama aku Divya Raiyyana. Panggilan Divya, aku disini mau bilang makasih atas semuanya, dan selamat tinggal", ujarku. 


"Dan aku masih hidup. " 


  Lalu aku kembali dan mengambil tas ku kemudian menuju keluar sekolah. Meninggalkan mereka yang masih tercengang menatapku. 



~~~~~

Pada akhirnya, seluruh kejadian tergantung pada kita. Sang pemeran utama cerita. Hanya kita yang dapat mengubah alur. Hanya kita yang dapat mengubah nasib. Dan hanya kita yang dapat menentukan akhir cerita. 


Terkadang perubahan juga diperlukan. Bukan berarti kamu harus mengubah semuanya. Tapi lakukan lah secara perlahan sesuai keinginanmu. Dan jangan pernah menganggap remeh dirimu. 


Karena kamu sempurna dengan kekurangan dan kelebihan yang kamu punya. 

~~~~~



Finally-!!! 

Akhirnya blog ku selesai huhuhuㅜ.ㅜ

Kalau sempet nambah satu lagi nih sebagai penutup~

Komentar

Posting Komentar